Pavlov, Stimulus – Respons dan Kebiasaan Kita

Pernah gak sih kalian ngerasain bosen or bête banget sama kegiatan kita, ambilah contoh kerja atau sekolah/kuliah??? Silakan dijawab dulu deh.. dalem hati ajah yak,jangan treak-treak, ntar dikira orang… hehehe😛. 90% orang-orang yang saya beri pertanyaan ini selalu menjawab “pernah”. Dan apa kalian masuk ke 90% teman-teman saya itu? Or bahkan yang 10%?? Hebat banget kalo kalian masuk yang 10% #djempol!! Yah, wajar sih sebenernya, manusiawi banget. Rutinitas yang begitu-begitu saja, bos or dosen or guru yang killer, temen yang nyebelin gak bisa diajak kerjasama, kerjaan or tugas yang gak ada abisnya adalah rata-rata jawaban dari teman-teman saya yang pernah ngerasain bosen or bête di kegiatan mereka.

Sadar gak sebenernya hamper semua jawaban kalian itu justru factor dari external diri kita, pengaruh dari orang lain, lingkungan or apapun diluar diri kita sendiri?! Saya pribadi sebenernya percaya sama perkataan banyak orang yang bilang kalau lingkungan tuh sangat berpengaruh ke sikap kita. Bahkan saya percaya kalo lingkungan kita bisa mempengaruhi sifat kita, cara berfikir or even keyakinan kita. Cuman emang akhir-akhir ini kadar kepercayaan saya terhadap teori itu berkurang lumayan banyak. Kenapa?? Baca blognya sampe beres yak… hihihi

Pernah denger teori tentang stimulus – respons ??? Kalo yang udah pernah denger silakan temen sebelahnya dikasitahu yak, daripada saya nulis panjang lebar kan.. heheh maap becanda.. OK then, teori tentang stimulus – respons yang saya tahu itu adalah teori tentang behavioristik manusia yang selalu merespons setiap stimulus yang dia terima, yang biasanya responsnya akan sebanding dengan stimulusnya, jadi jika stimulusnya baik, maka baik pula lah responsnya, kalau jelek stimulusnya, jelek pula responsnya.

Gini contohnya, kalau kita dipukul seseorang, (kalau kita punya kesempatan untuk bales) 90% dari kita akan bales memukul, kalau kita diberi kado oleh orang lain, (kalau kita punya kesempatan untuk bales) 90% dari kita pengen bales kasi kado ke si pemberi. Ya begitulah secara simple teori stimulus – respons. Nah sebenernya ada yang menarik dari salah satu teori behavouristik ini yang dapat kita ambil hikmah untuk kita semua #halahbahasane.

So sejarah ditemukannya teori ini berawal dari seorang professor asal Russia bernama Prof. Ivan Petrovich Pavlov (selanjutnya kita sebut doski Pavlov aja yah, kepanjangan nama euy..😛 ) yang saat itu sedang mengadakan serangkaian percobaan yang berkaitan dengan sifat-sifat behaviouristik. Saat itu Pavlov sedang mengadakan pecobaan terhadap seekor anjing yang dikurung didalam kandangnya. Setiap pagi Pavlov selalu dating ke kandang si anjing dengan membawa makanan anjing, sebelum dia memberikan makanan itu kepada si anjing, Pavlov selalu membunyikan lonceng kecil, baru memberikan makanannya.

Percobaan ini dia lakukan terus menerus oleh Pavlov selama 7 hari berturut-turut. Kemudian di hari ke delapan, Pavlov masih melakukan percobaannya, namun kali ini agak berbeda. Dia datang ke kandang si anjing dan membunyikan lonceng, tapi kali ini Pavlov tidak memberikan makanan ke si anjing. Dia perhatikan perilaku si anjing setelah Pavlov melakukan “ritual” nya itu. Apa yang terjadi?? Ketika diperhatikan, si anjing mengeluarkan liur lebih banyak dari biasanya. Dari perilaku si anjing ini kemudian Pavlov menyatakan tentang teori stimulus – respons nya yang terkenal itu dan sampai saat inipun masih dijadikan referensi dalam ilmu psikologi behavioristik di seluruh dunia.

Nah dari sejarah ditemukannya teori stimulus – respons, apakah kita akan masih memakai teori ini dalam kehidupan nyata kita sehari-harinya?? I mean, apakah kita masih akan berbuat buruk juga jika kita diperlakukan buruk,,?? kalau missal kita membalas perbuatan baik dengan perbuatan baik sih wajar ya, gak heran. Kalau mau diakitkan dengan tulisan saya diatas, apakah kita masih juga akan bête, males or gak optimal kerja kita kalau lingkungan kita gak mendukung, boss or dosen kita killer???

Hell.. to the Oo… Helloo… #alay

Teori itu diambil dari percobaan terhadap anjing lho bro.. masih inget kan?? Masa ya kita mau disamain sama anjing sih di masalah perilaku??? Emang kita sama-sama mahluk, tapi kita sebagai manusia kan diberikan kelebihan sama Allah SWT dibandingkan anjing.. apa coba.. Otak bro.. Brain.. Cerebro.. Gehirn.. yang luar biasa hebatnya. Saking hebatnya otak kita, sejelek apapun perilaku orang lain or lingkungan terhadap kita, otak kita PASTI bisa mengubahnya menjadi perilaku baik. Hanya, kitanya mau gak buat membalas perilaku or pengaruh or stimulus jelek dengan balasan or respons yang baik???

Di dalam Islam (mohon maaf, karena saya Muslim) kita dituntun untuk bisa membalas perlakuan jelek dengan perlakuan baik. Seperti yang di Firmankan Allah SWT di Al-Quran Surat Fushilat Ayat 34

Yang artinya : Tidaklah sama perbuatan baik dengan perbuatan jahat. Jika kamu membalas perbuatan jahat dengan kebaikan, maka musuh-musuhmu yang paling keras akan menjadi teman karib dan sejawatmu.

Ada juga kisah tauladan yang sangat indah dari Imam Abu Hanifah. Teladan mulia yang dapat kita ambil dari ulama besar, dimana ada seseorang berbuat kasar dan mencaci-maki Imam Abu Hanifah. Beliau tidak membalas dengan sepatah-katapun padanya. Ia pulang ke rumah dan mengumpulkan beberapa hadiah, lalu pergi mengunjungi orang tersebut. Beliau memberikan hadiah-hadiah itu kepadanya dan berterimakasih atas perlakuan orang itu kepadanya seraya berkata: “Kamu telah berbuat untukku hal yang sangat aku sukai, yaitu memindahkan catatan perbuatan baikmu menjadi catatan perbuatan baikku dengan cara berlaku kasar seperti tadi kepadaku.”

Namun dalam Islam juga dijelaskan bahwa perbuatan jelek yang dibalas dengan perbuatan baik jadi tidak berlaku ketika perbuatan jelek itu berkaitan dengan aqidah, seperti perbuatan menghina, memaki atau semacamnya terhadap Allah SWT, Al-Quran dan atau nabi Muhammad SAW justru kita disarankan untuk bisa marah, dengan catatan marah kita ini untuk membela aqidah kita, bukan untuk melampiaskan nafsu amarah saja.

So dalam urusan yang ngga ada kaitannya dengan aqidah, mari kita belajar untuk menjadi orang yang tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang kondusif yang bisa membuat performance hidup kita turun. Optimalkan otak dan diri kita untuk bisa mengolah sesuatu yang seperti “sampah” menjadi sesuatu yang sangat berharga untuk kita

Disarikan dari Seminar Biznet Networks Outing 2012 oleh Andrio Mafrizal dari MC2 Hotel Grand Panghegar 19 Oktober 2012

Wallahua’lambisshowaab..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s