Mulai Belajar Jadi Good Parents Yuk…

Akhir-akhir ini saya ga tau kenapa saya jadi seneng sekali baca buku tentang parenting, how to rise your kids, naluri ke-bapak-an saya mulai muncul kali ya.. hehehe. Salah satu buku yang menurut saya bagus banget itu bukunya Ayah Edy, judulnya “Ayah Edy Menjawab, 100 Persoalan Sehari-hari Orangtua yang Tidak Ada Jawabannya di Kamus Manapun” . Ayah Edy ini adalah seorang konsultan parenting dan penggagas Indonesian Strong From Home. Apa sih Indonesian Strong From Home?? Coba cari di internet deh, pasti banyak infonya, hehehe, maafkan, kali ini saya tidak membahas mengenai hal itu, munkin next time yak😀

Buku ini munurut saya sangat bagus untuk orang-orang yang pengen ngedidik anaknya atau muridnya di sekolah dengan lebih baik, tentu saja terlepas dari bagaimana mendidik anak berdasarkan agama dan keyakinan masing-masing kita. Dari 280-an halaman di buku ini, saya baru baca sampai halaman 180, sejauh ini buku ini memang berisi tentang masalah-masalah yang biasa dihadapi oleh orang tua terhadap putra-putrinya. Kok saya bisa bilang ini masalah yang biasanya dihadapi orang tua?? Saya memang belum pernah jadi orang tua, tapi saya pernah jadi anak yang juga melakukan hal itu juga kan, hihihi *bandel.com . Masalah-masalah seperti bagaimana mengatasi anak yang menjadikan tangisan sebagai senjata buat dapetin keinginannya, Bagaimana cara melarang anak yang tepat, Bagaiamana agar anak tidak mengompol lag dan masih masalah-masalah lainnya yang biasa terjadi di keluarga dibahas di buku ini. Dan sejauh ini cara-cara yang ditulis oleh Ayah Edy menurut saya selalu tepat dan applicable.

Ada beberapa cara yang selalu bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah anak based on buku ini, antara lain :

  • Selalu jalin komunikasi yang baik dengan anak, posisikan dia juga sebagai manusia yang juga perlu didengar pendapatnya, perlu teman untuk curhatnya, perlu dilibatkan dalam setiap aktivitas yang ada di keluarga dan lain sebagainya
  • Selalu buat kesepakatan bersama anak mengenai Reward and Consequences untuk setiap perbuatan yang dilakukannya
  • Konsisten untuk terapkan Reward and Consequences yang telah disepakati bersama, selalu beri anak kita reward jika dia berbuat baik, tidak perlu harus berupa barang atau materi lainnya, at least berupa pujian dan pelukan padanya akan sangat berarti untuknya. Begitu pula sebaliknya, jika anak berbuat jelek, jangan ragu untuk memberinya Consequences sesuai kesepakatan yang kita buat dengan si anak
  • Terus bersabar dan belajar untuk bisa menjadi orang tua yang lebih baik untuk anak kita

Untuk detailnya seperti apa, Ayah, Ibu, Guru, para calon Orang Tua semua, silakan bisa baca bukunya, insyaALLAH buku ini bisa bikin kita jadi lebih percaya diri buat bisa jadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita, paling tidak itu yang saya rasakan.

Oh iya, sebenernya isi buku Ayah Edy ini sudah banyak diterapkan di dunia barat lho, malah dulu di MetroTV sempet ditanyangin reality show, namanya Nanny 911, keren banget deh. Dan entah kenapa, acara itu sudah jadi favorit saya meskipun waktu itu masih duduk di bangku kuliah, waktu itu saya udah pengen jadi bapak kali ya hehehe, silakan diintip dulu deh🙂

Salah satu bagian di buku ini yang menaik untuk saya adalah bagian dimana ada orang tua yang bertanya kepada Ayah Edy mengenai anaknya yang akan masuk SD kemudian diharuskan mengikuti tes IQ sebagai salah satu syarat untuk bisa masuk ke SD yang katanya bonafit itu. Ayah Edy kemudian menjawab dengan bercerita bagaimana sejarah digunakannya tes IQ sebagai standart tes masuk ke sebuah institusi. Jadi pada saat Perang Dunia 1 (PD1) seorang psikolog berkebangsaan Perancis bernama Alfred Binet diminta oleh pemerintahnya untuk membuat sebuah tes yang akan digunakan untuk tes masuk tentara yang akan diikut sertakan dalam PD1. Saat itu ternyata belum ada riset mengenai otak manusia dan cara kerjanya secara lebih mendalam. Jadilah tes IQ ini menghasilkan klasifikasi manusia berbentuk lonceng, ada yang digolongkan sebagai manusia dengan kemampuan diatas rata-rata, kemampuan rata-rata dan kemampuan dibawah rata-rata. Dan sayangnya manusia dengan kemampuan dibawah rata-rata jumlahnya adalah yang paling banyak.

Padahal, jika kita ingin mengukur kecerdasan seseorang, yang harus diriset tentu otak yang bersangkutan. Dan pada masa itu tes IQ menurut Alfred Binet adalah tes yang benar, yang tujuannya adalah mengklasifikasikan manusia berdasarkan soal-soal tes yang diberikan kepadanya. Lama kelamaan karena waktu itu belum ditemukan metode tes lain, maka pada masa revolusi industry tes IQ ini digunakan untuk rekrutmen karyawan-karyawan yang akan bekerja di suatu industry,  dan sampai sekarang sayangnya sudah merebak dan menjalar sampai ke sekolah-sekolah tempat dimana anak kita menuntut ilmu.

Sekolah-sekolah kita yang menerapkan tes IQ sebagai satu-satunya metode untuk mengklasifikasikan anak-anak kita berubah fungsi menjadi lembaga yang menyeleksi mana anak yang pintar dan mana anak yang bodoh, bukannya menjadi lembaga yang membuat semua anak didiknya menjadi juara semua atau pintar semua. Dan pada akhirnya sekolah-sekolah kita hanya mampu mencetak 3 orang juara dari 40 siswa di tiap kelasnya. Apakah para orang tua yang anaknya tidak masuk tiga besar itu mau disebut anaknya sebagai anaka yang tidak meraih juara atau gagal?? Toyota, sebagai produsen mobil terbesar di dunia saat ini saja hanya membolehkan 1 mobilnya cacat produksi dari 1000 mobil di setiap siklus produksi , apalagi kita, tak satupun orang tua di dunia yang mau anaknya menjadi seseorang yang gagal bukan??

Trus, sebenernya ada gak sih tes yang bisa dipake untuk menentukan berhasil tidaknya pendidikan anak kita?? Jawabannya ada, sejak tahun 1980-an, di Amerika, banyak yang beranggapan tes IQ tidak lagi cocok digunakan di dunia pendidikan. Adalah kemudian Howard Gardner, seorang pendidik anak dan psikolog dari Amerika yang menemukan sebuah metode yang diberi nama Multiple Intelligence (MI) atau Kecerdasan Beragam. Metode ini konsepnya ialah kita harus meyakini bahwa setiap anak itu terlahir dalam kondisi pintar dan terlahir sebagai seorang pemenang, mereka pintar di bidangnya masing-masing. Ada yang pintar dibidang seni, matematika, social dan lain sebagainya.

Mengapa demikian, Allah SWT, menciptakan kita semua manusia dari milyaran sel sperma yang kemudian berlomba untuk bisa sampai ke sel telur. Dan hanya ada 1 sel sperma yang paling kuat yang akhirnya bisa membuahi sel telur, dan woalaaa this is it.. #ala-alaFarahQuinn jadilah kita, atau anak kita sekarang ini. Namun mengapa setelah anak kita mengikuti tes IQ kemudian dia dinyatakan ada yang jadi sebagai calon pecundang dan ada yang jadi calon pemenang? Anak kita yang salah ataukah tes nya yang salah memetakan potensi unggul anak kita?? Apakah tidak ada parameter dan asumsi lain yang sesuai dengan karakteristik dan cara kerja otak anak kita??

So, masih perlu kah anak kita menjalani tes IQ hanya untuk bisa masuk ke SD yang kita inginkan??

Mohon maaf, saya rasanya tidak terlalu pintar untuk bisa merangkumkan salah satu chapter buku Ayah Edy ini, lebih enak kalo emang baca langsung sih ya.. hehehe

Alhamdulillah, saya bersyukur sekali sama Allah SWT yang udah ngasi Bapak dan Ibu saya seperti sekarang ini, mohon maaf, ayah dan ibu saya adalah orang tua yang tidak berpendidikan tinggi. Beliau-beliau ini hanya lulusan SD yang kemudian melanjutkan pendidikan informalnya di Pondok Pesantren local di dekat rumah eyang. Tapi justru karena itu, ayah dan ibu saya tidak pernah menuntut saya untuk bisa masuk ke jurusan A or B or C . Mereka hanya berpesan kepada saya, apapun jurusan or pilihan saya di sekolah, yang penting saya niat ngejalaninnya, karena biaya yang dikeluarkan untuk sekolah itu tidak sedikit. As simple as that.

Yaah emang sih, ujung-ujungnya karena salah saya sendiri yang kurang bisa menemukan apa passion saya sebenernya, yang efeknya terkadang saya mikir saya salah ambil jurusan. Tapi semoga saya bisa ngejalanin pilihan saya ini dengan niat dan sepenuh hati seperti pesan orang tua saya, amin🙂

 

 

6 thoughts on “Mulai Belajar Jadi Good Parents Yuk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s