Referensi: Hukum Bekerja Di Bank (Konvensional)

Topic ini sebenernya udah lama jadi topic yang bikin saya penasaran, “Gimana sih hukumnya dalam Islam terhadap orang yang bekerja di Bank yang masih menggunakan system riba’…? ”. Saya sendiri sempat ada keinginan untuk bisa kerja di Bank bahkan saya pernah ikutan seleksi (tapi gagal :P), ya maklum lah, mahasiswa baru lulus ngeliat kerja di Bank itu sesuatu yang cetar membahana badai.. #halah hehehe.

Sekalinya dulu saya pernah bertanya kepada salah satu Ulama dari Sukun, Malang, mengenai bagaimana sih hukumnya bekerja di Bank yang masih menggunakan system riba’? Beliau menjawab bahwa sebenarnya hokum riba’ itu jelas, haram. Bahkan hokum riba’ ini menurut Beliau berlaku juga kepada orang-orang yang ikut mencatat trnasaksi riba’ tersebut. Beliau juga menyarankan sebaiknya menjauhi hal-hal yang berbau riba’ seperti itu karena masih banyak sumber rezeki dari ALLAH SWT yang jelas halal hukumnya.

Nah minggu kemarin pas banget, saya baca sebuah tabloid Islam terbitan Kota Malang, Media Ummat edisi 154 di rubric Tanya Jawab yang diasuh oleh KH. Chamzawi dan KH. Marzuki Musytamar dari Malang. Di rubric itu ada seorang pembaca yang bertanya bagaimana hukumnya gaji pegawai bank, berikut tulisan lengkapnya.

===========================================================================

Gaji Pegawai Bank

Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh. Saya bekerja di Bank, apakah harta yang saya peroleh itu halal? Kemudian apa yang harus saya perbuat jika haram, sedangkan saya harus menafkahi istri dan anak. Jazakumullah jawabannya. 0857 666 6XXXX

Jawab:

Waalaikumsalam Warahmatullah Wabarakatuh. Pertama perlu kita ketahui bersama bahwa Bank itu adalah suatu lembaga keuangan yang usaha pokoknya menerima simpan-pinjam keuangan. Namun dalam praktiknya, setiap transaksi keuangan dalam Bank, baik itu transaksi peminjaman maupun penyimpanan terdapat istilah bunga, dan dalam masalah ini para Ulama terjadi ikhtilaf (perbedaan pendapat)

Pertama,ada Ulama yang mengatakan haram, karena bunga Bank itu termasuk riba qardhi . Hal ini sesuai dengan Hadits Nabi Muhammad SAW: “Suatu peminjaman yang menarik suatu manfaat (terhadap yang dipinjamkannya) maka termasuk riba’ ” (Al-Jami’ As-Shagir / 6336. Fathkhul Mu’in/ 68)

Kedua, ada Ulama yang mengatakan boleh, jika tidak ada syarat pada waktu akad (transaksi). Karena menurut ahli hokum yang masyhur menjelaskan bahwa adat yang berlaku itu tidak termasuk syarat.

Ketiga, ada Ulama yang mengatakan itu hukumnya Syubhat (tidak identik dengan haram). Jadi kesimpulannya terkait masalah Bank itu ada tiga hukumnya, Haram, Halal dan Syubhat’ lebih jelasnya saudara dapat melihat pada  Ahkamul Fuqaha’ fi Muqarrarati Mu’tamar Nahdatul Ulama/473

Dan menurut Syaikh Ibnu Hajar juga boleh apabila dalam kondisi terpaksa atau darurat, semisal ketika tidak ada lagi pihak yang sanggup untuk menjaga harta selain Bank, atau tidak ada lagi pihak yang sanggup memberikan hutangan kecuali Bank. Sehingga kita bisa terlepas dari dosa karena darurat yang mana sekiranya apabila tidak memberikan bunga/tambahan maka kita tidak akan mendapat hutangan (Fathkhul Mu’in/68)

Kalau saudara berkeyakinan hukumnya haram maka konsekuensinya semua juga ikut haram, begitu pula dengan yang halal maupun syubhat. Adapun solusinya kami (KH Chamzawi) menyarankan kalau saudara bekerja di Bank, rajinlah bersedekah, membantu faqir miskin, dan sebagainya. Karena InsyaALLAH perbuatan baik itu meghapus sesuatu yang buruk. Hal ini sesuai anjuran Nabi Muhammad SAW: “Bertaqwalah kamu dimana kamu berada dan ikutkanlah perbuatan buruk dengan perbuatan yang baik, karena perbuatan baik bisa menghapus perbuatan yang buruk dan berakhlaq baiklah kepada sesama” (HR. Ahmad At-Tirmidzi, Al Baihaqi). (Al Jami’ As-Shagr, 115)

Menurut Hadits ini kita dianjurkan agar selalu hidup berlandaskan Taqwa kepada ALLAH SWT dalam berbagai aspek kehidupan sehingga apa yang kita lakukan itu mempunyai nilai ibadah. Kita sebagai manusia tentunya tidak bisa terhindar dari dosa  atau sesuatu yang buruk, oleh karena itu Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik. Karena perbuatan baik itu bisa menghapus perbuatan yang buruk. (selesai)

===========================================================================

Buat yang masih galau sama kerjaannya di Bank saat ini, minta aja ke ALLAH SWT langsung, bener gak sih ni kerjaan yang sekarang buat dijalani, n kalopun akhirnya memutuskan buat cabut dari kerjaan sekarang, yakin aja lah, ini kan perintah ALLAH SWT langsung dan kita mau ngelakuin perintah itu atau taat sama perintah itu, ya masa ALLAH SWT gak mau bantuin kita dapet pekerjaan yang jauh lebih baik?? InsyaALLAH

Ya mungkin itu salah satu referensi yang saya dapatkan dalam menyikapi pertanyaan bagaimana sih sebenarnya hokum nya bekerja di Bank itu?. Tentunya masih banyak referensi ain yang mungkin bisa didapatkan oleh rekan semua mengenai hal ini, mohon silakan jangan sungkan untuk dapat mengkoreksi saya. Oh iya, kalau dari rekan ada pertanyaan lebih lanjut mengenai seputar Hukum Islam, dapat disampaikan melalui sms ke nomor 085 646 77 6116 atau ke Media Ummat Jalan Wilis No 11 (Belakang Museum Brawijaya) Malang

Wallahua’lam bisshowaab

75 thoughts on “Referensi: Hukum Bekerja Di Bank (Konvensional)

  1. Cical

    Agak dilematis emang kalo ngomongin yang satu ini. Soalnya sebagian besar temen-temen aku juga pegawai bank konvensional walaupun yang kerja di bank syariah udah mulai banyak juga sich.

    Aku sendiri punya akun di dua-duanya. Akun bank syariah di pake buat nabung, soalnya potongannya dikit heheh. Yang bank konvensional dipake buat transaksi sehari-hari, soalnya jaringannya luas dan pilihan transaksinya juga variatif, kalah jauh yang syariah-nya.

    Reply
  2. rafik

    ArtikeL yg ane cari nih, mantap…..
    Tapi ane msh blum bs narik kesimpulan nih,
    ane mo kerja di Bank KonvensionaL, tp ane msh ragu tntang haram,halal,subhat nya
    toLong bantu ane y…..add FB saya, ato sms saya 085646425084
    email FB: rafikz.indo@gmail.com

    Reply
  3. Hanifa

    Assalamualaikum Muhamad Yoesuf

    Infonya sungguh berguna dan memantapkan hati saya. Belum lama ini saya diterima di sebuah bank konvensional dgn rangkaian tes yg lumayan berat, namun ketika saya akan menandatangani kontrak saya berat untuk melakukannya. Saya cb utk solat istikharah utk mendapatkan petunjuk mengenai kebimbangan hati saya ini dan semakin lama hati saya semakin mengatakan tidak untuk bekerja di bank tersebut. Jelas hal ini ditentang keras org tua saya hingga beliau menjadi tidak peduli lg kepada saya..namun setiap kali saya solat malam saya semakin yakin bahwa apa yang saya ambil sudah tepat, ditambah informasi yg Anda tuliskan ini semakin memantapkan saya akan keputusan saya. Insyallah saya bisa mendapat pekerjaan yg halal dan org tua saya bisa sadar bahwa apa yg mereka percayai adalah hal yang keliru dan hal yg dibenci Allah SWT.

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      Waalaikumsalam mbak Hanifa

      Alhamdulillah mbak, itu berarti ALLAH SWT sayang banget sama mbak, tetep semangat ya mbak.. ALLAH SWT pasti ngasi yang jauh lebih baik, ya masa mbaknya udah taat sama DIA, DIA nya malah ninggalin mbak..

      semangat mbak Hanifa \^O^/

      Reply
    2. danar

      Hanifa… Insya Allah petunjukNya tidak pernah keliru. Surga adalah pilihan. Rizki Allah tidak terhingga, karena Dialah pemilik seluruh alam. Semoga Allah memberikan “jalan” yang terbaik dunia dan akhirat. Amin.

      Reply
    3. Unhy

      Wahhhh sama sy, sisa tes kesehatan mba, trusss gak tau lah sy ragu ragu trus nangiss gak mw lanjutin …..dan memilih jadi guru, meskipun gajix dikitttt

      Reply
  4. eli

    Insya Allah jika segala sesuatu dipadukan dengan niat ikhlas dalam mencari rezeki yang halal, Allah SWT akan mempermudahkannya bagi anda.

    “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu modal hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (Qs: Al-Baqarah: 278-279).

    Reply
  5. rizal

    Assalamualaikum Wr Wb
    Saya juga sering mencari referensi2 tentang hal ini, karena saya seorang mahasiswa di salah satu PTS di Madiun. Bagi mahasiswanya yang mempunyai nilai dan kemampuan yang bagus mendapat kesempatan magang di bank sebagai pengganti KKN.
    Dan saya juga sering melihat perbedaan pendapat antara boleh dan tidak untuk bekerja di bank. Suatu ketika saya bertanya kepada dosen Pendidikan Agama Islam tentang hal ini, dan beliau menjawab “Bekerja di bank itu sebenarnya boleh, karena bank merupakan sebuah organisasi yang memang dbutuhkan oleh masyarakat, karena bank juga penggerak ekonomi masyarakat dan tidak dianggap riba’. Sesuatu baru dianggap riba jika hal itu berkaitan dengan individu dengan individu, misalnya saja rentenir. Rentenir dengan seenaknya memberikan bunga yang memberatkan pada masyarakat, dan jumlah bunganya sangat melampaui batas. Sedangkan di bank bunganya tetap, dan jika bank memberikan bunga pinjaman yang melebihi ketetapan pemerintah, maka bank bisa kena sanksi..”

    Itulah pengalaman saya berdialog dengan dosen saya. Mungkin bisa menambah referensi bagi kita…

    Reply
  6. FurQan Effendy Isnur (@FurQan_Ei)

    Saya sekarang bekerja di Bank Konvensional. Memang membingungkan mengenai hukumnya menurut islam, sebagian mengatakan boleh sebagian tidak. Tp, bukankah setiap perbuatan itu didasarkan pada niat. Niat saya untuk bekerja dan membahagiakan kedua orang tua. Kalau memang haram, mengapa MUI tidak memboikot saja semua Bank konvensional dan mengeluarkan fatwa haram secara Nasional, biar jelas hukumnya.

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      Dear Mas Furqon

      Iya betul mas, masih ada khilafiah di kalangan ulama mengenai ini, sejauh yang saya tahu sih yang hampir semua ulama sepakat dengan haram nya transaksi riba, karena juga jelas hukumnya di dalam Al-Quran. Tp mengenai bank nya sendiri memang masih diperdebatkan masalah ini.

      Kemudian niat mas memang baik mas dan inshaAllah mulia sekali, tapi hukum Allah tidak bisa berubah hanya karena niat dari si pelakunya. Ibarat kalo ada orang yg niatnya bersihin motor tp nyuci pake air got yang kotor.

      Untuk kenapa MUI tidak sekalian menutup bank, saya sendiri tidak tahu alasannya kenapa, mungkin akan lebih baik kalau pertanyaan mas itu langsung ditujukan ke MUI, inshaAllah jawabannya akan lebih baik dari jawaban saya mas🙂

      Mungkin kalau boleh saran silakan mas bisa menanyakan hal ini ke Ulama yang mas percaya keilmuannya, boleh juga mas istikharah langsung ke Allah, inshaAllah mas akan dapet jawaban terbaik. Sesuai tulisan saya, saya hanya menyampaikan salah satu referensi mengenai hukum bekerja pada bank konvensional yang saya temukan dan saya yakini kebenarannya menurut saya pribadi

      Wallahu ‘alam bisshowaab..🙂

      Reply
    2. Marga Satwa

      hukumnya sudah jelas haram jika yang mengatakan boleh orang yang belum tau.perbuatan itu tidak hanya berdasarkan niat semata akan tetapi berdasarkan kenyataan,,,apakah jika kamu ingin membahagiakan ortu dalam niat kamu tapi kamu merampok toko kemudian barang itu kamu kasih ortu apakah seperti itu boleh?mui tidak bisa memberantas bank karena didunia ini memang ada 2 bendera yang akan terus menerus ada,bendera kebatilan dipimpin oleh iblis dan bendera kebenaran dipimpin allah ,masalahnya iblis itu akan kekal sampai hari kiamat.maka apakah ada orang yang bisa membunuh iblis bahkan para nabipun tidak bisa.apakah manusia akan kekal sampai hari kiamat..maka tidaklah manusia taat kepada musuhnya/iblis melainkan akan dibinasakan……………

      Reply
  7. arien

    aku ada ex pegawai bank ,saya pada akhirnya memutuskan resign setelah membaca ayat2 Allah DI Alquran aku seprti di beri petunjuk, awalny sempat galau sih, krn sy sdh punya pekerjaan mapan di salah satu bank terbesar di indonesia, tp kembali lagi kalo kita niatnya karna ALLah insya ALLAH pasti ada jalan, toh smua tadinya pekerjaan ini dtgnya dr ALLah ketika Allah meminta kembali masa iya kita g mau…ALLAH MAHA LUAS LAGI MAHA KAYA insyaALLAH ini jd pertimbangan buat tmn2 yg lg galau

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      Subhanallah.. Luar biasa nih mas/mbak arien.. Demi memenuhi perintah Allah SWT beliau berani meninggalkan pekerjaan mapannya, dan Allah SWT PASTI tidak akan mengecewakan hambanya yang telah taat.

      Ibarat seorang ibu yang mempunyai anak yang nurut sama ibunya, pasti ibunya tidak akan menolak apa yang diminta si anak, malah akan memberi lebih dari yang diminta anaknya

      Wallahu ‘alam bisshowaab

      Reply
  8. sila

    Subhanaallah.. seperti mendapat kejelasan dan semakin memantapkan hati saya. saya baru saja mau apply lowongan bank konvensional,tapi langsung saya batalkan. kebetulan saya lulusan ekonomi syariah,tapi setiap nglamar di bank syariah selalu gak pernah lolos akhirnya timbul keinginan untuk mencoba bank konvensional setiap melihat lowongan bank konvensional dimana-mana,tapi saya selalu ragu untuk mencoba di bank konvensional. setelah membaca beberapa referensi dan terakhir baca artikel ini saya semakin yakin bahwa rejeki tidak hanya bisa di dapatkan melalui bank, masih banyak sektor riil yg lain. terima kasih, postingannya sangat bermanfaat🙂

    Reply
    1. agung

      Assalamualaikum.. Saya hanya ingin berbagi kpd saudara2 seiman saya sekalian,. Hr ini saya mendatangi panggilan kerja melalui vendor didua tempat yg berbeda dan ternyata didua tempat ini kebutuhannya sama yaitu perbankan.. Akirnya saya terpaksa mengikuti serangkaian test yg dilakukan divendor tsb utk posisi dibeberapa bank karna saya terlanjur datang, dlm hati sejak diberitahukan diruangan bahwa kebutuhannya utk perbankan saya sudah tidak sangat berminat krn saya sadar apapun alasannya orang yg memakan riba, atau org yg bekerja dgn hasil riba atau bahkan orang yang berkutat dlm operasional perputaran riba akan mendapat siksa yg besar nanti diakhirat, meski dgn niat baik bekerja utk ibadah tp sgt disalahkan jk melakukan jalan ini, semisal bagaiman jk saya bekerja di suatu perusahan dimana perusahaan tsb menjual minuman keras?? Dan saya tidak mengkonsumsi minuman keras, dan saya hny niat baik utk bekerja?? Dan inipun salah krn dgn alasan apapun kita akn menanggung dosanya.. Apapun yg sdh dilarang lebih baik ditinggalkan krn dunia itu lezat dan manis, dunia itu menipu, dunia adalah penjaranya org iman tp bkn berarti tdk ada hal yg baik didunia ini justru kita harus mengambil hal baik agar kita termasuk org2 yg sadar dan berfikir.. Sucikanlah hartamu dan kehidupanmu agar kamu terhindar dr api neraka.

      Reply
  9. ibra

    aku dulu kerja di bank konven. tapi hati ini selalu gundah gulana mengenai hukum riba. akhirnya q mendapt petunjuk. dan resign. stlah itu aku buka usaha kecil-kecilan dan alhamdullilah, dengan wirausaha, Allah membuka pintu rejeki lebih lebar.. aku juga meresapi perkataan ustz. yusuf mansur, bahwa klo hidup lo bener, lo gk bakalan susah..

    Reply
  10. adhim krisna

    alhamdlillah, baru aja jumat kemarin mantapkan niat buat ga tanda tangan kontrak di salah satu bank konvensional nasional mas. padahal sudah hampir 2 bulan ikut seleksinya. sebelumnya sempat ngerasa ga nyaman (galau) sebelum bikin keputusan mundur, tapi setelah bikin keputusan buat mundur, sekarang jadi nyaman perasaan saya mas.
    INSYAALLAH Allah bakal ngasih ganti yang lebih baik lagi dari ini

    Reply
  11. sarah

    Sy bekerja 3th di bank, krn memang tulang punggung kel sy.. Stlh byk baca n tiba2 sy kurang sreg akhirnya stlh melahirkan sy resign dan full jadi ibu.. Memang dirmh ga pny gaji sbsar sy dlu bekerja, tp sy lbh tenang.. Terima kasih artikelnya smga Allah menetapkan hati sy slalu pd hal2 yg halal aamiin….

    Reply
  12. eko wahyudi

    Mau cerita pengalaman saya ” aku kerja di bank BCA (stts outsorc) karena msh cari2 pengalaman kerja, stlh 1 thn lbh bekerja, saya dpt rekomendasi dr pimpinan di cabang untuk psikotes jd staff, aku pun mengikuti tes tahap 1,2,3 dan selanjutnya lulus, psikotes mulai jam 8AM-8PM, besoknya pun saya ktmu pimpinan yg merekomendasikan saya. (Dia bilang: km lulus, tinggal nggu SK sambil nti tes kesehatan mungkin 1-2bln lagi).karena penentuan ada di kantor pusat bag sdm, di wkt menunggu hasil. Pas di tv ntn dengerin ceramah tentang riba (kerja di bank itu juga hukumnya haram, otomatis lbh penasaran lagi buka” google, baca buku, ternyata lbh mendalam lagi emang kerja di bank juga riba) akhrnya aku pun msh galau soalnya saya pun kerja di bank trus aku pun SK untuk staff sdh akan turun msh tetep gak percaya, takut, tapi di setiap doa ku sehabis sholat (ya allah jika aku kerja di bank di ridhoi maka lancarkan, dan kalau pun kerja di bank itu dosa maka berikan jawaban dan keajaibanmu) selang lbh 1bln aku pun dpt sms isi sms itu intinya blm sesuai dgn kebutuhan kami. Aku pun baca sms itu tercengang, aneh dan ajaib jwbn alloh, besoknya pun aku ktm dgn pimpinan (perempuan). Aku: bu, sy kmrn dpt sms saya gagal. Pimp: loh, kok bisa, ahh gak percaya, km semua udh lulus, coba nti saya mau tanyakn ke pusat. Aku: gak ush dh bu mungkin blm rejeki (maklum non muslim pimpinan saya/cines), oh ıɏa bu sekalian bln dpn saya receind. Pimp: kok gtu, coba lah di pikirkan dlu. Saya: sdh bu, saya sdh mantap.. Akhirnya aku pun keluar dan dapat pekerjaan yg sesuai dgn apa yg di harapkan oleh saya dan barokah

    Reply
      1. niko

        mas saya mau nanya, apa yang terjadi kalau bank itu tidak ada? dlu waktu ada kasus bank century aja katanya bisa bikin krisis kaya tahun 1998. kalau bank syariah dan bank konvensional itu sebetulnya sama saja atau berbeda?

      2. broadcastengineer

        @niko (dibawah, ga tau kenapa tidak bisa repy posting punya kmu.

        bank diharapkan harus ada, karena itu merupakan sentral bertemunya debitor dan kreditor.

        mengenai krisis, bank konvensional dan bank syariah sama2 bisa terkena dampak krisis.

        perbedaan mendasar antara bank konvensional dan bank syariah terletak pada perputaran uangnya dimana oleh bank sehingga menghasilkan margin “perbedaan” antara bank (dan dilaporkan ke bank indonesia), penabung(debitor) dan peminjam (kreditor)), baik yang berupa perorangan maupun perusahaan.

        Saya merasa harus tetap ada bank konvensional dan bank syariah karena ke majemukan keyakinan manusia.

        Saya sendiri klo boleh berpendapat. jikalau sebagai kreditor, saya ke bank konvensional, jikalau sebagai debitor saya ke bank syariah.

        abis lihat Dr. M. Syafii Antonio bicara tentang bank islam (syariah) di metrotv

  13. Airina

    Assalamualaikum.. sedikit curhat nih. Saya udah 2 tahun nganggur setelah saya lulus kuliah. Selama 2 tahun itu, saya paling kerja freelance. Saya sulit mendapat pekerjaan, karena faktor dibatasi orang tua, saya tidak boleh kerja diluar kota. Padahal saya ini kuliah di jurusan jurnalistik dan lahan pekerjaan saya yaitu media lebih banyak di ibu kota. Selain itu juga orang tua lebih suka anak2nya kerja di kantoran dr pada media, seperti televisi. Mengingat usia saya semakin bertambah dan akan makin sulit mendapat pekerjaan akhirnya saya coba apply ke perusahaan, saat itu saya melamar ke salah satu bank di Indonesia. Dan akhirnya setelah melewati rangkaian ttes saya pun diterima. Sejak awal saya selalu galau, sampai pada saat diberitahu saya diterima pun bukan rasa senang akhirnya akan bekerja setelah 2 tahun menganggur, tp rasa galau yg dirasa. Awalnya saya memang sangat galau, karena ini bukan pekerjaan yg saya inginkan tapi dilain pihak, orang tua saya sangat senangbahkan terharu mengetahui saya keterima kerja di bank. Akhirnya saya pun menandatangani kontrak kerja dg masih merasa galau. Pada satu ketika saya sedang browsing, mencari tau ttg warna seragam bank tempat saya akan bekerja, munculah kalimat yg menyatakan kalau bekerja di bank itu hukumnya haram ribawi. Waaah hati saya semakin galau, apalagi kontrak sudah saya tanda tangan dan tertera didalamnya pegawai yg dalam kurun waktu satu sampai dua taun bekerja mengajukan resign akan dikenakan penalty 18 juta. Saya skr baru dua hari bekerja, saya bingung memikirkan dosa yg mungkin akan saya terima, bagaimana membicarakan ini pada orang tua dan memikirkan penalty 18 juta jika saya memutuskan keluar. Sejujurnya saya juga bingung, karena selama nganggur saya selalu berdoa minta ditunjukan pekerjaan yg terbaik untuk saya dan terbaik dimata Allah yg bisa mendatangkan rezeki yg halal dan di ridhoi Allah agar saya juga bisa membahagiakan orang tua. Saya masih bertanya tanya apakah ini pekerjaan yg ditunjukan Allah itu, tapi sesungguhnya saya sangat takut akan dosa bila pekerjaan ini haram.

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      Dear Mbak Airina Yang baik

      Pertanyaan mbak ini sudah saya tanyakan kepada Habib Muhsin Bin Hamid, berikut jawaban dari Beliau

      “Dalam islam. Perjanjian kalo dlm waktu sekian thn tdk boleh keluar kerja dan kalo keluar harus byr uang sekian juta itu perjanjian atau akad yg tidak sah tidak dibenarkan. Jadi gugur dgn sendirinya. Artinya seandainya dia keluar dr pekerjaan itu tdk harus membayar uang itu. Ini hukum islam. Kalo hukum ekonomi indonesia saya tdk tahu.

      Tentang bekerja di bank mmg benar itu sangat beresiko. Minimal syubhat lah. Tp lebih berat lagi, haram. Mk seharusnya dia bisa keluar dr bank untuk mencari pekerjaan yg lain.

      Seharusnya dari awal apabila kita ragu trhadap sesuatu mk kita tinggalkn saja. Seperti yg telah diajarkn nabi. Pasti dlm keraguan itu ada sesuatu yg tdk baik.”

      Reply
  14. Dandi Milito Andono

    terlepas dari fatwa para ulama yang menyebutkan ada 3 hukum riba yakni haram,halal dan syubhat…Tapi marilah kita lihat seksama,mungkin bisa anda lihat literatur yang mengidentikan riba seperti analogi pada pengharaman khamr..Tahap pertama pada surat Al-Rum ayat 39 merupakan surat makiyah(sebelum hijrah) yang di dalamnya ada penyebutan riba (tanpa waw), perlu di ketahui bahwa riba pada ayat ini hanya peringatan akan efek negatif dari riba tersebut,selanjutnya tahapan kedua pada surat An-Nissa ayat 161 yang merupakan surat madaniyah yang di dalamnya sudah terdapat isyarat tentang keharamannya dengan larangan memakan riba. Tahap ketiga yang juga surat madaniyah yakni surat ali-Imran ayat 130 yang melarang memakan riba dengan berlipat ganda (hal ini bukan syarat keharaman hanya saja penjelasan tentang bentuk riba yang di praktekkan pada masa turunnya ayat al-Qur’an sehingga penambahan tanpa pelipatgandaan adalah haram). Dan pada tahap akhir pada surat Al-Baqarah ayat 278-279 yang memperintahkan kita untuk meninggalkan riba yang ancamannya bahwa Allah SWT dan Rasul-Nya akan memerangi pemakan riba..Akan tetapi jika kita menilik surat al-Baqarah ayat 275 merupakan ayat yang KRUSIAL bahwa “….mereka berpendapat bahwa jual beli sama dengan riba padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba…”.kata ‘mereka’ pada ayat tersebut merupakan kaum yahudi dan masyarakat jahiliyah pada masa itu. Dalam arti mereka beranggapan bahwa kelebihan yang diperoleh dari modal yang dipinjamkan tidak lain kecuali sama dengan keuntungan (kelebihan yang diperoleh dari) hasil perdagangan. Logika kaum musyrik tersebut cukup beralasan namun Allah sendiri yang menjawab tuduhan “mereka” dengan menyatakan menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.Pengharaman dan penghalalan tersebut tentunya tidak dilakukan tanpa adanya “sesuatu” yang membedakannya, dan “sesuatu” itulah yang menjadi penyebab keharamannya. Oleh karenanya ada banyak Solusi yang di tawarkan untuk tidak terjerumus kepada riba yang di haramkan Allah SWT dan salah satunya adalah dengan jual-beli yang tentunya sesuai dengan kaidah-kaidah syar’i dengan tidak mencederai salah satu pihak dan terdapat unsur monopoli di dalamnya. Dan terdapat banyak macam bentuk akad dalam syirkah islam yakni Mudharabah,Murabahah,Rahn,Salam,Istishna.Ijarah,Wadiah dan masih banyak lagi yang lain yang tentunya menjadi solusi dalam transaksi-transaksi ekonomi dengan catatan tidak ada unsur pengelabuan kepada masyarakat. TIBA SAATNYA KITA UNTUK MERENUNGKAN MATANG-MATANG APA YANG SUDAH MENJADI PERINTAH RABB DAN RASULNYA..(APABILA PERINTAH UNTUK MELAKSANAKAN MAKA LAKSANAKANLAH DAN APABILA ADA PERINTAH UNTUK MENINGGALKAN MAKA TINGGALKANLAH)…

    Reply
    1. Dzulkarnain Abby

      Sy pegawai slh satu bank konvensional….sy hbs kena stroke shg kondisi bdn sy blm normal sampe skg…tp satu yg pasti…biaya pengobatan dan operasi sy bank konvensional itu yg nanggung dan alhamdulillah sampai saat ini sy msh diijinkan bermanfaat dan berkarya di Bank konvensional itu utk memenuhi amanah sy sbvg khalifah dlm keluarga kecil sy…yg mnrt sy itu adl kebaikanNYA…Apa Allah berkenan menitipkan kebaikanNYA pd sesuatu yg diharamkanNYA? Btw klo BUNGA itu diklasifikasikan sbg RIBA…boleh ga klo margin keuntungan jual beli pedagang sy klasifikasikan sbg MARK UP? Mnrt sy pribadi bunga dan smua biaya kredit adl UPAH bank….yg smua sdh tertulis detail di Perjanjian Kredit (PK) yg hrs disetujui dan dittd sblm kredit cair.
      Btw sy mhn penafsiran ttg ayat berikut (yg mnrt penafsiran logika sy-sm spt saat Nabi Ibrahim dl saat melogikakan berhala dlm pencariannya atas siapa itu Tuhannya-adalah bukti nyata bahwa Bank sbnrx mengamalkan ayat2 Allah sbb:
      Sapi Betina (Al-Baqarah):282 – Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
      (Maaf ini cm skdr sharing tanpa maksud menyerang opini pihak manapun….smg Allah meridloi ikhtiar kita dlm mencari kebenaran dhi-sama spt Allah meridloi Nabi Ibrahim dlm menemukanNYA…)

      Reply
      1. Dzulkarnain Abby

        Jika Bank konvensional itu mmg haram….smg Allah melapangkan hati hambaNYA yg punya uang utk maw dan percaya meminjamkan uang kpd saudara2nya yg membutuhkannya tanpa syarat …(ini kok sama aj tdk mengharap adanya imbalan surga meski sdh beribadah dan beramal sholeh…..sgt idealis…smg tdk termasuk yg melebihi batas…krn Allah sgt2 membenci Hal itu….)

      2. Muhamad Yoesuf Post author

        Mas Dzulkarnain Abby yang Baik

        seperti yang saya tulis diatas, tulisan ini merupakan salah satu referensi hukum bekerja di Bank Konvensional, sekali lagi saya tulis ini adalah salah satu referensi, masih ada banyak referensinya mengenai hal ini. dan yang saya tulis disini merupakan artikel yang saya yakini sampai sekarang.
        Jika Mas Abby ada referensi lain mengenai hal ini, monggo kerso mas, saya sangat menghormati pilihan Mas Abby, toh hal ini juga masih jadi khilaf di kalangan Ulama. Dan kalau memang Mas Abby yakin dengan referensinya, saya juga sangat hormati hal itu Mas, dan semoga semua yang Mas lakukan jadi berkah untuk keluarga🙂

        Oh iya, seperti yang saya tulis diatas, untuk diskusi maslah ini, Mas Abby bisa SMS ke nomor 085646776116 atau ke Media Ummat Jalan Wilis No 11 (Belakang Museum Brawijaya) Malang yang nanti akan jawab adalah beberapa orang Ulama senior di Kota Malang, karena kebetulan satu kantor dengan kantor MUI Kota Malang, jadi keilmuannya dijamin jauh lebih baik daripada saya, semoga bermanfaat Mas

  15. rahmad

    ada y blng haram n halal jd pro kontra kn jd jelas syubhat, brang syubhat lbh baek djauhi.

    Dlu jg gtu, sering nglamar d bank2 tp gk da y dtrima hehe, pdhal da ada y rekom hehhe, n Allah mngetaui y trbaek bwt qta n bnyk kerja lain y halalan n toyibah,.so say NO with bank.

    Reply
    1. mustofa

      Saya kuliah memang di jurusan perbankan, dalam perjalanany saya kuliah pastinya saya bercita2 agar dapat memiliki pekerjaan di perbankan, dan syukur alhamdulilah dari masih kuliah sy sudah bekerja di salah satu bank BUMN, karna ketidakpuasan saya akhirnya pendek kata sampai saat ini saya sudah pindah2 k banyak bank,mulai dr bank swasta sampai BUMN, bahkan hampir seluruh bank BUMN sy sdh bekerja disana, namun belakangan sy baru merasakan bahwa uang yg sy dapat dr hasil bekerja di bank ti barokah, ibu saya sakit2an, dan sy tdk pernah merasakan ktenangan hati dalam bekerja, dan bismilahh besok sy akan resign dan akan mencoba pekerjaan yg lebiih jelas, smoga pkerjaan iseng2 baca artikel sore ini menjadi hijrah terbesar dalam hidup saya,

      Reply
    2. supersaiyajin5

      Kalo saya setiap ngelamar ke bank pasti keterima. Tapi saya sudah sadar itu sebuah dosa besar makanya menghindari walau sering dapat panggilan kerja di bank dan finance karena mereka melihat pengalaman kerja data pribadi saya ada di bidang perbankan yg saya postingkan di berbagai media job seekers online.

      Walau silit mencari kerja di luar perbankan, saya yakin itu adalah cobaan bagi saya yg baru keluar dari jurang dosa RIBA. Saya akan terus bersabar, berdo’a dan berusaha agar mendapatkan pekerjaan yg HALAL 100%. Aamiin …

      Reply
  16. supersaiyajin5

    “Kalau saudara berkeyakinan hukumnya haram maka konsekuensinya semua juga ikut haram, begitu pula dengan yang halal maupun syubhat. Adapun solusinya kami (KH Chamzawi) menyarankan kalau saudara bekerja di Bank, rajinlah bersedekah, membantu faqir miskin, dan sebagainya. Karena InsyaALLAH perbuatan baik itu meghapus sesuatu yang buruk. ”

    Saya pernah mendengar ceramah dan membaca sebuah hadits jika pelaku RIBA tidak akan diterima amal sedekah dan amal shalatnya. Kalo gitu sedekahnya sia-sia donk ?

    Wallahualam …

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      Dear Mas SuperSaiya

      Saya akan coba tanyakan hal ini ke yg lebih mengerti mas, tp jika ditanya dengan yg saya tahu sampai sekarang, bisa jadi Hadits tersebut berusaha menggambarkan besarnya dosa riba sampai disebut kan seperti itu.

      Dan menurut saya, ini bisa dianalogikan seperti “bolehkah kita berbohong demi kebaikan..?” Berbohong tetaplah berbohong, suatu perbuatan yg dicela oleh Allah SWT, begitu pula kebaikan, kebaikan tetaplah kabaikan yg tetap akan dicatat oleh Allah SWT sebagai pahala untuk kita. So jika kita melakukan riba’ ya kita tetep dapet dosa nya riba, ketika sedekah ya kita tetap menerima pahala atas sedekah kita.

      Segala bentuk penilaian, pemberian dan penghapusan dosa dan pahala adalah hak nya Allah SWT, kalau kita taubat dan ngikutin apa perintah Allah SWT ya masa sebegitu teganya Allah SWT yang Maha Penyayang gak mau ampunin dosa kita..🙂

      Wallahua’laambishowaab

      Reply
  17. Wahyu

    Assalamu’alaikum.

    Saya mau tanya dan mohon masukannya dari rekan2 sekalian. Saya baru saja bekerja di salah satu BUMN bidang permodalan. Singkatnya, BUMN ini juga menyediakan pinjaman dana untuk UKM dan ada bunga tentunya. Unit bisnis BUMN ini memiliki pembiayaan yang konvensional dan syariah. Namun saya sendiri tidak berada dikedua tempat itu, saya berada di divisi lain yang mengurusi dana PKBL atau CSR institusi lain. Yang ingin saya tanyakan, apakah gaji yang saya dapatkan mengalir perputaran dana ‘riba’ dari pembiayaan tersebut?

    Masuknya saya di BUMN ini bisa jadi merupakan doa2 saya kepada Allah SWT, dimana saya berdoa agar sebelum masuk di tahun yang baru saya mendapatkan pekerjaan yang mapan dan bisa membuat bangga orang tua saya. Bagaimana saya menyingkapi hal ini dan apa yang harus saya lakukan? Terima kasih…

    Reply
    1. Marga Satwa

      anda lihat dananya dari mana jika dananya hasil dari riba maka anda termasukpemakan riba .soal doa minta pekerjaan jika yang nongol kerjaan riba maka tinggalkan dan berdoa lagi supaya ketemu yang non riba,

      Reply
  18. Artomoro Sugiharto

    Tolong doakan saya agar bisa resign dari pekerjaan marketing bank….saya pernah mengutarakan pada ibu, disertai contoh2 dari kehidupan beberapa pegawe bank senior…namun sehari setelah saya mengutarakan hal itu bapak saya telfon dan melarang saya resign karena saya dah beristri, dan katanya itu masih subhat, dan mungkin karena untuk kebanggaan ortu juga, tolong kasih saran bagaimana cara ngomong yg halus ke bpk saya itu…maturnuwun

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      Amiinn semoga doa mas untuk bisa taat sama Allah diijabah ya mas..

      Soal gimana ngomongnya sih saya rasa mas lebih tahu drpd saya, moment yg pas buat bapak seperti apa, cara masuknya jg seperti apa, yg penting sih menurut saya sebelum mas ngomongin itu ke bapak, ngomong dulu sama Allah, kalo perlu sholat hajat, sholat sunnah mutlaq biar selebihnya Allah yang bantu mas, Allah nya kita kan sebaik baik nya Maha Pembolak balik Hati.. InsyaAllah dibantu sama Allah mas..🙂

      Reply
    2. Marga Satwa

      segera keluar dari marketing bank tidak ada ketaatan ke ortu jika itu maksiat kepada allah.apakah jika ayah kamu menyuruh kamu mabuk apakah kamu mabuk juga hidup itu tidak untuk bangga banggaan hidup itu masalah kekal di neraka atau kekal di surga,masalah istri tidak ada kaitannya dengan keluar dari bank…apakah jika kamu keluar dari bank apakah kamu mati?takut tidak bisa makan? ingat sebelum kamu masuk bank apakah kamu bisa makan ya bisa …makan nasi…maka setelah kamu keluar dari bank kamu juga akan makan nasi…hidup itu memang pilihan berada pada bendera iblis atau berada pada bendera allah.iblislah yang menakuti manusia dengan kemiskinan untuk melakukan kemaksiatan sehingga membuat kaki kaki tergelincir dari as sirot almustaqim

      Reply
  19. Marga Satwa

    tentang ketiga hukum itu sebenarnya yang berlaku hanya satu yaitu haram,segala bentuk riba adalah haramtermasuk bank syariah juga haram.janganlah berdalih jika sedekah boleh melakukan yang haram ini ilmu agama apa. aturan riba boleh asal sedekah ini jelas ulama sinting ,dimana mana ulama menyuruh yang halal.kalo ulama menyuruh riba boleh asal sedekah jangan diikuti ulama seperti itu meskipun ulamanya rajinibadah sebab jika kamu masuk neraka ulamanya akan berlepas diri…..kalo ulamanya saya nih nyuruh kamu kamu minum khamer ga papa asal rajin sedekah..apa kamu juga nurut minum khamer….

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      Setuju mas, saya atau mungkin kami menginginkan hal yang sama,

      Tapi saya cuma ingin berbaik sangka sih mas sama Sang Ulama, mungkin beliau menyampaikan seperti itu untuk bisa dikonsumsi dulu oleh orang yang keimanannya biasa2 saja, belum setinggi mas, jadi disampaikanlah seperti itu,

      Sama seperti halnya khamr yg awalnya diperbolehkan kemudian dilarang setelah mereka merasakan sendiri efek jeleknya, sama seperti sedekah mengharapkan balasan dr Allah ala Ust. Yusuf Mansur, apa dilarang? Ndak kok, tujuannya satu, untuk menarik orang merasakan keajaiban sedekah, saya yakin kok, orang yang meragukan keajaiban sedekah belum pernah melakukannya, dan setelah merasakannya dia ndak akan lagi menjadikan balasan sedekah sebagai prioritas nomor satu dalam bersedekah, yah.. Wallahua’laam bisshowaab

      Reply
  20. Bingung

    Saya seorang yang bekerja di dunia perbankan, namun bukan dari bank, melainkan Vendor. Menurut saya, bekerja di bank itu sah” saja, karena bank adalah sebuah organisasi lembaga keuangan yg dibutuhkan oleh masyarakat, walaupun ada bunga untuk transaksi tertentu, namun nilainya tetap. Namun menurut saya pihak bank memberikan bunga kepada nasabah juga ada timbal baliknya, misalnya Nasabah jadi lebih mudah bertransaksi, menyimpan uang dengan aman, mengambil uang lewat mesin ATM, mengirim uang lewat mesin ATM yang sudah tersebar di seluruh wilayah. Bayangkan apabila tidak ada lembaga keuangan yang namanya Bank, dimana kita mau menyimpan uang? bagaimana kita bisa dengan mudah dan praktis menerima atau mengirim uang dalam hitungan detik? Dan yang perlu kita ketahui, apabila bank hanya mengambil keuntungan dari biaya administrasi Transaksi saja, maka Bank tidak akan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat dengan menyebar mesin ATM di berbagai daerah (500-2000) mesin pertahun untuk bank BUMN, Menambah berbagai fitur payment yang memudahkan dalam pembayaran, dan lain lain. Jadi intinya itu semua adalah kebijakan bank agar dapat lebih maksimal dalam melayani masyarakat, kalau hanya mengandalkan biaya admin bank dari setiap transaksi, bank tidak akan mungkin dapat mengembangkan berbagai fitur yang sangat banyak untuk kebutuhan masyarakat🙂

    Reply
  21. Riko

    Saya jadi bingung…misalnya yahh saya membuka usaha untuk pinjaman…bukankah itu untuk membantu orang lain yg sedang membutuhkan…TERUS BAGAIMANA SAYA MEMBUAT USAHA INI MENJADI BERKEMBANG AGAR LEBIH LUAS LAGI MEMBANTU ORANG LAIN..?? yg MUNGKIN harus saya lakukan adalah memberikan bunga agar usaha saya dapat berkembang lagi (supaya bisa bantu orang lain lagi dan menggaji para karyawan saya hehehe) bukan kah masalah bunga telah disepakati oleh kedua belah pihak..!!!! terus nanti kalau nd ada bunga siapa yg gaji karyawan saya..? apakah setiap usaha mau Rugi..?? COBA DIBAYANGKAN JIKA INI ANDA

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      Mas Riko yang baik

      Lakukanlah hal yang baik dengan hal yang baik mas, janganlah mengecilkan rezeki yang datangnya dari Allah. Nuwun sewu sebelumnya, saya berasumsi bahwa mas adalah seorang muslim, seorang muslim yang wajib menjauhi segala larangan-NYA termasuk riba.

      AA Gym pernah mencontohkan, apakah kalau kita mau nyuci baju kita akan gunakan air got yang terang2 kondisinya kotor? Tujuannya sih baik, ingin membersihkan baju, tapi jika dilakukan dengan cara yang salah, yang ada baju kita malah makin kotor dan bau

      Yakinlah mas, jika mas mau menaati perintah Allah SWT untuk menjauhi riba, saya yakin yakin yakin sekali Allah gak akan diem mas, DIA akan kasi jalan mas dari cara yang paling DIA suka..

      Mungkin salah satu artikel yang membuat saya yakin untuk menjauhi riba ialah tulisan Mas Saptuari Sugiharto, salah satu pengusaha sukses dari Jogja pemilik puluhan cabang Kedai Digital di seluruh Indonesia, berikut artikel nya

      http://tdabalikpapan.com/manusia-manusia-tanpa-hutang-1-2/

      http://tdabalikpapan.com/manusia-manusia-tanpa-hutang-3-4/

      Semoga menjadi pencerah untuk kita semua

      Wallahualaam bisshowaab

      Reply
  22. dimas

    assalamualaikum wr.wb
    saya saat ini bukan pegawai bank hanya seorang nasabah bank.. setelah membaca artikel ini dan membaca koment2 disini, saya jadi ingin bertanya.. apabila bekerja di bank haram lalu bagaimana hukumnya orang yang melakukan transaksi (nasabah) di bank? terima kasih. wassalam

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      Waalaikumsalam

      mas dimas yang baik,
      Saya pernah mendengar 2 pendapat mas, ada yang berpendapat bahwa tetap dia melakukan riba, karena terlibat di dalamnya

      Pendapat lain ada yg bilang, hukumnya tetap riba, namun jika memang tidak bisa menghindar dari hal tersebut, maka dioerbolehkan namun tetap diniatkan tidak mengambil untung dari bunga bank yang bersifat riba tersebut.

      Wallahua’lam bisshowaab

      Reply
  23. Adi Suryadi

    Assalaamualaikum..
    Mohon pencerahannya..saya bekerja di Bank Konven dan menurut saya memang lebih condong ke “abu-abu”. Seandainya saya hijrah ke perusahaan non perbankan/leasing, apakah saya akan terbebas dr Riba itu..krn yg saya tau biasanya saat suatu perusahaan mengalami kelebihan likuiditas perusahaan akan melakukan penempatan dananya di Bank entah itu konven/syariah dlm bentuk deposito jk.pendek sehingga bisa mendapat BUNGA yg menjadi Pendapatan Lain2 perusahaan tersebut. Dan bukankan gaji pegawai jg akan dibayar dr total pendapatan perusahaan? Mohon masukannya..
    Wassalaamualaikum.

    Reply
  24. Andri

    Saya pernah bekerja di bank selama 5 tahun, menurut saya haram bekerja di bank. Bagian marketing, collection, adalah divisi bank paling kentara unsur riba nya. Kita dapat gaji, bonus, komisi berdasarkan prestasi kita dalam menjerumuskan nasabah untuk selalu berhutang, membayar hutang hanya bunganya saja sehingga tagihan hutangnya ngga akan habis habis.

    Reply
  25. izie22

    Ass
    Saya cvm saya sudah bekerja di bank konven 2 thn saya baru tahu klo bank itu riba. Niat saya sudah bulat untkmkeluar dr bank namun kedua ortu saya tdk memoerbolehkan. Say trus berdoa sambil melamar ditempat lain. Alhmdulilah jumat bsok ada tes psikotes di salah satu instansi pendidikan. Mohon doa kawan2 smua smoga saya diterima di instransi tersebut, dimudahkan keluar dr bank tsb diperlancar proses resign. Ammiiiinn ya allah

    Jujur kerja di bank itu fasilitas nya sungguh luar biasa sekalik uang lembur yg besar, biaya fas kesehatan ditanggung , biaya persalinan,kesehatan anak,rekreasi gratis,pakaian, bonus pertahun,bonus triwulan, sungguh megadashatnya buayan riba ini….

    Apa memamg sistem riba seperti ini? Memberi buayan kepada karyawannya?
    Sungguh setiap hari saya mencairkan kredit hati saya direndung perasaan sedih, tp jg bahagia bsa menolong orang. Namun disisi lain bila nasabah itu menunggak baik karena arlasan apa pun ttap kita harus nagih. Nah ini yg saya anggap tidak wajar.

    Sem8ga allah mmebuka hati kita semua yg masih bekerja di bank. Amiin

    Reply
    1. tia

      pemerintah pinjam uang untuk pembangunan negara ini haram donk,,,padahal pinjaman nya juga d gunakan d berbagai bidang n institusi,,,,padahal maunya kan dpt sibsidi terus supaya murah,,,,haruskah resign jg dr indonesia yg pnya hutang banyak,, kan katanya hutangnya d pakai bersama sama:)

      trus knp msh ada jg yg pakai jasa bank sprt transfer,,,simpan uang dll(yg islam),,,kan harus ada pegawainya,,,,gaji pegawainya dr mn?klo ga ada bank pasti susah untuk simpan,transfer,gaji pegawai, ,, sdkan simpen uang d rumah dlm jumlah besar riskan
      berarti pemerintah dzolim donk,,,membuka bank,,,harusnya d pintu bank,atm dll yg berhubungan dengan perbankan d beri peringatan “anda memasuki hal yang d haramkan dgn resiko,,,,,,,bagi anda yg beragama islam,, untuk yang beragama lain silakan sesuai dgn hukum agamanya masing2”.jd pemerintahnya sdh memberikan peringatan,,,,yg blm tau jd tau,,

      kadang sy bingung,,,katanya bank haram tp ko klo transfer,simpan pake jasa bank,,,trus yg kerja d bank haram,,,emang pk robot ga di gaji,,,klo haram jgn pk jasanya semua jgn setengah2
      presiden kita slama ini islam ko masih ngutang aza,,,

      Reply
  26. piqri

    Dari tiga pendapat hanya yang pertama yang bersumber dari hadits Rasulullah SAW. Kalau Rasulullah sudah bersabda, maka sudah tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Apalagi yang berpendapat seperti di poin kedua dan ketiga, hanya akan menambah perselisihan saja di antara kaum muslim. So, jelas. Bekerja di Bank Konvensional menurut dalil adalah “Haram”. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknati pemakan riba (rentenir), orang yang memberikan / membayar riba (nasabah), penulisnya (sekretarisnya), dan juga dua orang saksinya. Dan beliau juga bersabda, ‘Mereka itu sama dalam hal dosanya’.” (HR. Muslim).

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      mas piqri yang baik

      setuju mas, tapi tidak semua hadits dan ayat al quran dapat di terjemahkan secara harfiah atau kontekstual, makanya Rasulullah juga menyuruh kita untuk menaati perkataan Ulama

      Juga hukum dalam Islam tidak hanya Al Quran dan Hadits saja, ada ijma dan qiyas bahkan beberapa Ulama ada yg mendetailkan lagi sampai 9 hukum

      jadi itu alasan saya menulis juga pendapat Ulama tersebut

      Wallahua’lam bisshowaab

      Reply
    1. irman

      Saya bekerja di bank hampir 5 tahun, awalnya dari bank konven terus terakhir di bnk syariah. Karena ketidaktenangan dan sering sakit sakitan yang sy alami saya memutuskan resign, disaat isteri sy lagi hamil anak pertama saya, agak miris memang. Dan lebih miris lagi hampir 3 tahun setelah resign, sy belum juga dapat pekerjaan halal yang sy idamidamkan untk dpt menunjang hidup keluarga sy, (walau sy terus berdoa dan berusaha mencari kerja memasukkan dn mengaply pekerjaan ke sana kemari, sampai mencoba membuka usaha kecil kecilan tapi yang ada hanya kerugian dan lebih memperburuk keadaan). Untung sy punya orangtua dan saudara kandung yang baik, semuanya selalu membantu keuangan keluarga sy. Tapi adakalanya sy merasakan hati sy mau benar2 hancur, karena menjadi beban bagi mereka. Namun Alhamdulillah dengan kesabaran yang terus menerus sy berhasil diterima di perusahaan yang menjual produk elektronik ternama, sebgai sales Alhamdulillah sy menjalani pekerjaan dgn hati yang tenang dan puas. Alhamdulillah juga penghasilannya mencukupi dan memuaskan sy, bg sy kerjanya lebih adil karena banyak pendapatan tambahan kalau hasil penjualan sy banyak, juga lebih jelas karena sy menjual produk yang jelas, dan lebih lega lg produknya jelas2 tidak haram. Semoga teman2 yang mengalami masalah seperti sy dulu, lebih tabah dan sabar dlm menjalani ujian dariNya. Yakinlah bahwa tdk ada sesuatu yang tdk baik yang datang dari Allah untuk kita, kalau kita mau menerimanya dgn lapangdada dn menyerahkan urusan kepadaNya, disetiap ujian dan cobaan pasti ada sesuatu kebaikan yang kadang Allah sembunyikan untuk kita. Terus berusaha dan jgn pantng menyerah. Amin ya Rabbal Alamin

      Reply
  27. Danang Proff

    Kalau Saya mengatakan jelas sekali haram di bank itu, karena di bank sendiri banyak praktik2 riba di dalamnya dari strategi untuk menipu nasabah dengan pinjaman2 yang kadang menggiurka tapi akhirnya mencekik nasabah..hal ini sudah sangat dilarang, praktik2 semacam ini hanya pegawai bank yang tau…atau mantan pegawai bank, coba tanyakan saja langsung pada mereka. Bagi yg sudah terlanjur bkerja kalau memang tau itu riba..segera cepat cari pekerjaaan yang lain..Allah tidak akan menutup rezekinya di bidang lain..walau posisimu di bank sekarang sudah tinggi tapi lebih baik keluar…karena semua itu berhubungan dengan banyak manusia mengenai hutang piutang…jika masih dikasih umur panjang, dan pensiun dari bank tersebut,orang tersebut harus minta maaf pada nasabahnya satu persatu karena berhubungan dengan banyak manusia/orang,dan jika ingin dosanya diampuni..Segera cari pekerjaan yang lain, saya juga pernah mengalaminya disaat melamar pekerjaan, saya banyak tawaran masuk di bank tapi karena tau hukumnya haram, saya lebih memilih bersabar dan selalu beribadah meminta petunjuk pada Tuhan YME, akhirnya seiring berjalannnya waktu saya bisa bekerja di Pemerintahan Kota sesuai bidang saya di Teknologi informasi…

    Reply
  28. Try Hartanto

    Saya sudah 8 tahun bekerja di salah satu bank BUMN konvensional di bagian kredit kemudian pindah ke bagian collection (tukang tagih). Dalam hati kecil saya takut dosa riba. Saya merasa galau apalagi saya mempunyai keluarga yang harus saya nafkahi bersama istri dan anak saya. Ingin rasannya meninggalkan pekerjaan ini. Tapi saya masih berpikir anak istri saya nanti makan apa. Saya percaya Allah menjamin rezeki hambanya. Namun istri saya menentang keinginan saya mau kerja apa umur sdh segini cari kerja jg susah apalagi mau buka usaha krn kita blm siap dng segala kekurangan rizki. Sekian lama bekerja baru2 ini saya habis lebaran nanti mau ditarik pimpinan lama saya ke bank syariah yg merupakan anak perusahaan di jakarta. Ya memang gajinya tdk seberapa. Saya berharap bisa mencari rizki yang lebih halal dan barokah dengan bekerja di bank syariah. Namun, setelah saya baca2 di internet ternyata bank syariah jg mengandung debu riba. Tidak murni syariah. Mohon pencerahan ustad apa yang harus saya lakukan. Apalagi habis lebaran ini saya psikotes dan wawancara sebagai formalitas dan otomatis diterima di bank syariah tersebut. Saya juga melakukan sholat istikharah agar diberikan pilihan yg terbaik untuk pekerjaan ini. Saya tinggalkan atau tetap mengambil pekerjaan di bank syariah

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      Assalamualaikum Pak Try yang baik

      Alhamdulillah jika rasa tak tenang itu muncul pak, artinya bapak masih sangat disayang sama Allah SWT, namun mohon maaf saya bukan ustadz pak, dan bukan pula orang yang tepat untuk ditanya hal ini..

      Saya hanya bisa saran untuk bapak bisa dateng ke ustadz yang bapak percaya keilmuannya di sekitar lingkungan bapak untuk menanyakan hal ini, InsyaAllah jawabannya lebih baik drpd saya

      Oh iya satu lagi mungkin bapak bisa baca bukunya mas saptuari sugiharto – kembali ke titik nol atau join di group telegram, search aja group “kembaliketitiknol”

      Semoga membantu ya pak dan semoga pak Try diberi kemudahan oleh Allah untuk bisa meninggalkan riba, amiin

      Terus berjuang pak, insyaAllah bapak sedang dalam jalan untuk mencari kebenaran

      Reply
    2. izie22

      Asalamualaikum

      Halo semua. Setelah hampir 3 tahun saya bekerja di salah satu bank bumd di indonesia. Alhamdulilah allah menunjukan dengan diterimanya saya menjadi salah satu pengajar padahal status saya blm llus kuliah. Sungguh suatu keajaiban dari allah. Bahwasanya saya diterima dan mendapatkan gaji yg sama. Namun tidal ada bonus,tunjangannkesehatan yg luar biasa seperti di bank. Tp saya ttap bersyukur. Karena janji allah benar. Apabila kita meninggalkan sesuatu karena allah. Allah pasti akan membukakan rizki yg lain,lewat cara yg lain..

      Alhamdililah
      Tetap berusaha dan berdoa
      Wasalam

      Reply
  29. dafid noer

    Assalamualaikum saya bekerja di koperasi simpan pinjam.
    Sedangkan saya sudah menyetujui saya di bagian penarikan uang lalu apa hukum pekerjaan saya . Mohon penjelasannya

    Reply
  30. Ervan Kurniawan

    Terima kasih kepada penulis yg telah menerbitkan artikel di atas. Benar-benar sangat membantu. Saya baru lulus SMA dan terpikir untuk mencari kerja, lalu melihat lowker Bank melalui Internet. Sayapun langsung senang gembira. Tetapi pada hari ini terbangun pd waktu subuh, saya tiba-tiba buka internet lalu menemukan artikel “Suka Duka bekerja di Bank. Sayapun berkecil hati, apalagi sbg CS / Teller. Jujur, saya langsung jatuh semangat.
    Ga lama, saya menemukan postingan yang terkait seperti di atas, saya langsung merasa yakin bahwa Allah SWT telah mengirim sinyal utk tidak mengambil pekerjaan tsb krn terkait banyak hal riba’ yang jelas dilarang dalam ajaran kita.
    Sekali lagi, Terima kasih utk penulis😀

    Reply
  31. oyibkamil

    harus bagaimana ane yg sdh tanda tangan kontrak bekerja di salah satu bank selama 1 tahun dan ini baru berjalan 3 bulan, jika keluar sebelum jatuh kontrak ane kena denda jutaan rupiah dan itu sangat meberatkan ane karna tidak punya uang sejumlh tersebut..jujur ane g tau sebelumnya mengenai artikel ini…tunjukan jalan yg terbaik untuk hamba ya Allah..

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      Kang Oyib Kamil,

      Allah memang akan membinasakan riba dan menyuburkan sedekah, menurut saya, mohon maaf sekali lagi menurut saya, kalau memang mas Oyib sudah terikat kontrak dan dirasa berat jika harus membayar denda, maka jalani saja mas sisa kontraknya, sambil berazam (berniat/berkeinginan kuat) untuk segera meninggalkan pekerjaan itu begitu masa kontraknya habis, saya yakin kalau mas Oyib memang berazam karena Allah untuk meninggalkan perbuatan Riba, maka Allah PASTI akan membantu Mas Oyib dengan jalan yang luar biasa indah, dan pasti diluar dugaan kita.

      Semoga Allah melindungi kita dari perbuatan Riba ya mas, saya ikut berdoa juga agar Mas Oyib bisa segera mendapatkan bantuan Allah tersebut, amiin

      Wallahua’lam bisshowab..

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s