Klasifikasi Dosa Menurut Imam Al-Ghazali

sin

Setiap perbuatan kita pasti bernilai, entah itu bernilai ibadah atau bernilai dosa. Hanya ALLAH SWT yang punya hak prerogative menilai perbuatan manusia, namun manusia juga dituntun dan diajarkan oleh ALLAH SWT melalui Al-Quran dan Nabi Muhammad SAW mana-mana perbuatan yang bernilai ibadah dan mana-mana perbuatan yang bernilai dosa. Banyak sekali perbuatan pahala yang bisa kita lakukan dan insyaALLAH kita sudah sering melakukannya (amiin). Sedangkan untuk perbuatan dosa beberapa Ulama’ mempunyai pembahasan tersendirinya, termasuk Imam Al-Ghazali yang pernah menulis mengenai klasifikasi dosa di Kitab Minhajul Abidin karangan Beliau sendiri.

Klasifikasi Dosa Menurut Imam Al-Ghazali

  1. Dosa antara hamba dengan ALLAH SWT karena meninggalkan kewajiban terhadap ALLAH SWT

Dosa jenis ini ialah dosa karena kita melalaikan kewajiban terhadap ALLAH SWT seperti halnya shalat, puasa di bulan Ramadhan, zakat dan ibadah lain yang sudah ditetapkan ketentuan pelaksanaannya. Imam Al-Ghazali sendiri masih menghukumi dosa jenis ini kedalam 2 hal

  • Jika seorang hamba meninggalkan kewajibannya terhadap ALLAH SWT karena dia malas atau tidak mau melakukannya karena hal yang lain, maka Imam Al-Ghazali memandang hamba tersebut telah melakukan dosa besar dan tentu saja diwajibkan untuk bertaubat kepada ALLAH SWT dengan taubatan nasuhataubat
  • Jika seorang hamba meninggalkan kewajibannya terhadap ALLAH SWT karena dia memang tidak meyakini kewajiban tersebut sebagai sebuah kewajiban yang harus dilakukan, maka Al-Ghazali memandang hamba tersebut telah murtad karena secara tidak langsung dia sudah tidak mengakui ketauhiidan ALLAH SWT, dan hamba tersebut diwajibkan untuk kembali mengucapkan 2 kalimat Syahadat terlebih dahulu sebelum ia bertaubat dengan taubatan nasuha.

 2.  Dosa antara hamba dengan ALLAH SWT

Dosa ini adalah ialah lebih karena ia melakukan perbuatan maksiat kepada ALLAH SWT seperti halnya, memakan uang riba, berbuat syirik dan lain sebagainya. Perbuatan dosa tersebut dapat kita tebus dengan melakukan taubatan nasuha secara sungguh-sungguh. Imam Ghazali dalam Kitab Minhajul Abidin juga menjelaskan bagaimana taubatan nasuha yang sesungguhnya. Menurut Beliau ada 4 syarat untuk ber-Taubat Nasuha

taubat

  • Memantapkan hati, bersungguh-sungguh (azm) dalam hati dan perbuatannya dan berjanji untuk tidak melakukan dosa yang sama kembali.

Imam Al-Ghazali juga berkata bahawa kesungguhan hati (azm) itu sangat menentukan apakah dia bisa bertaubat dengan taubatan nasuha dan tidak akan melakukan dosa itu lagi atau tidak

  • Menyesal dengan sesungguhnya sesal atas perbuatan dosa yang pernah dilakukan

Sesungguhnya kita harus banyak bersyukur bisa menjadi ummat Nabi Muhammad SAW, karena ALLAH SWT memberikan kita untuk bisa bertaubat. Coba bandingkan dengan ummat Nabi Musa AS yang apabila ia ingin  bertaubat atas perbuatan dosanya maka ia harus dibunuh oleh para orang shaleh baru dia bisa dikatakan bertaubat

  • Mencabut segala perbuatan maksiat yang dilakukan dan hanrus menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa perbuatan itu adalah perbuatan maksiat
  • Dan apabila perbuatan dosa yang pernah dilakukannya itu telah merugikan orang lain, maka ia wajib mengembalikan atau mengganti kerugian yang telah ia timbulkan kepada orang tersebut atau ahli warisnya

Maaf

Masih menurut Imam Al-Ghazali, biasanya orang yang bisa bertaubat dengan taubatan nasuha itu diawali dengan mengingat-ingat perbuatan maksiatnya bahwa perbuatannya itu adalah perbuatan yang buruk. Kemudian ia juga sadar bahwa perbuatan maksiatnya bisa membuat ia mendapatkan siksaan dan atau azdab dari ALLAH SWT sangat pedih. Dan juga mengingat-ingat bahwa sesungguhnya manusia itu adalah mahluk yang lemah dihadapan ALLAH SWT dan tiada kekuatan apapun, dan kalaupun ia bisa bertaubat, maka kekuatan itu datangnya dari ALLAH SWT.

 3.  Dosa antara hamba dengan hamba

Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa dosa antara hamba dengan hamba adalah yang paling berat cara menebusnya, selain diwajibkan untuk melakukan taubatan nasuha, kita juga diwajibkan untuk meminta maaf, menggantirugi kerugian yang dialami oleh  korban, dan juga si korban harus bersedia menerima permintaan maaf dan ganti rugi yang diberikan. Mengapa jadi yang terberat? Karena ALLAH SWT adalah Maha Pemberi Maaf, jika kita sudah melakukan taubatan nasuha dengan sesungguh-sungguhnya, maka insyaALLAH ALLAH SWT pasti memberikan maafnya. Namun untuk urusan dengan manusia?? Belum tentu ia dapat menerimanya begitu saja. Dari sahabat Abdullah bin Amru bin Ash r.hu, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, “Setiap dosa orang yang mati syahid akan diampuni, kecuali utang.” (Takhrij Imam Ibnu Hajar al-Asqalani r.hu, Kitâb Targhib wa Tarhib, hadis nomor 439). Coba bayangkan, semua dosa orang yang mati syahid diampuni, kecuali hutangnya kepada sesame manusia, kalau hutang saja beda urusan sama dosa yang lain, apalagi kalau kita berbuat salah kepada sesame manusia??

Maaf

Yah, semoga kita dijaga sama ALLAH SWT agar tidak melakukan banyak dosa kecil apalagi dosa besar, karena bagaimanapun juga sekecil apapun dosa kita, kita akan mempertanggungjawabkan perbuatan kita kepada ALLAH SWT. Dan semoga segala dosa-dosa kita diampuni oleh ALLAH SWT dan dimaafkan oleh orang-orang yang pernah kita rugikan karena perbuatan kita. Aamiin.

Wallahua’lambisshowaab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s