Mencoba Belajar Dari Kasus Ustadz Solmed

Ustadz Solmed yang mirip alisnya sama kayak @idibnu hehehe :D

Ustadz Solmed yang mirip alisnya sama kayak @idibnu hehehe😀

Seminggu ini beredar kabar mengenai Ust. Soleh Mahmud atau biasanya dikenal sebagai Ust. Solmed (yang katanya) mematok tarif yang super mahal untuk kegiatan dakwahnya. Belum lagi kabar mengenai (yang sumbernya dari media-media yang lebay) komersialisasi dakwah oleh beberapa Ustadz kondang dari Jakarta. Miris juga sih denger sampai ada berita kayak gini beredar, kesannya kita Umat Muslim itu nggak mampu membiayai juru dakwahnya dan juga juru dakwah kita yang terkesan matre sekali.

Terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah, biasanya orang kemudian bertanya, sebenarnya gimana sih hukumnya mengkomersialisasi dakwah dalam Islam itu?? Saya pribadi belum pernah belajar banyak mengenai hal ini, tapi untuk masalah tersebut ada satu webite yang membahas masalah ini dengan sangat jelas, silakan dapat mengakses website Pustaka Ilmu Sunni Salafiyah – KTB

Selain itu, media-media lebay ini ternyata juga sudah sangat berhasil membentuk opini masyarakat awam ke arah itu yang ujung-ujungnya membuat makin keruh citra Islam. Bahkan ada seorang teman yang begitu tahu masalah ini (yang tentunya hanya bersumber dari media lebay tadi) langsung menjudge para Ustadz tersebut dengan kata-kata yang sangat menyakitkan, astaghfirullah.

media lebay yang sangat provokatif

media lebay yang sangat provokatif

Saya tidak bermaksud membela sikap Ustadz Solmed yang (kalau memang benar) seperti itu, tetap saya tidak setuju dengan pendakwah yang memasang tarif, apalagi tarifnya sudah sangat mahal. Tapi mari kita coba lihat ke diri kita sendiri, apa kita sudah berikan segala sesuatu yang terbaik dari diri kita untuk agama yang kita cintai ini? Bisa jadi perbuatan pendakwah yang seperti itu karena kesalahan kita juga yang tidak benar-benar memperhatikan mereka. Bisa kita lihat berapa banyak (mohon maaf) “Ustadz Kampung” yang mungkin secara derajad keilmuan lebih tinggi dari mereka para pendakwah terkenal justru tidak kita perhatikan??

Sebenernya ada beberapa hikmah yang dapat kita jadikan pembelajaran dari kasus Ustadz Solmed akhir-akhir ini

  1. Selalu rekam setiap pembicaraan penting kita, misalnya negosiasi masalah pekerjaan atau apapun yang kita anggap penting. Merekam tersebut tidak hanya bisa dilakukan dengan menggunakan camera video, mencatat setiap detail negosisi merupakan salah satu bentuk kegiatan merekam
  2. Jangan terlalu percaya dengan satu atau dua media pemberitaan saja, apalagi di jaman yang seperti ini, media sudah banyak disusupi kepentingan-kepentingan pribadi maupun golongan yang entah kita tidak tahu apa agenda sebenarnya dibalik semua pemberitaan itu.
  3. Sudah saatnya kita mulai merubah sikap dan pemikiran kita bahwa apapun yang ada hubungannya dengan dakwah seharusnya dilakukan dengan ikhlas. Iya benar, apapun kegiatan kita kita harus lakukan dengan ikhlas, masalahnya pemikiran dan sikap sebagian dari kita langsung mengartikan ikhlas (dalam konteks dakwah) itu sebagai gratis, ndak perlu biaya dan lain-lain. Padahal menurut pendapat saya, seorang Ustadz atau guru agama kita juga manusia yang juga memerlukan “dunia” dalam kehidupan normalnya, bahkan justru kita harus lebih bisa menghargai seorang Ustadz yang telah meluangkan tenaga, waktu dan ilmunya untuk dapat diajarkan kepada kita. Inget lho, ilmu yang diajarkan adalah ilmu agama yang bisa mengantarkan kita kepada ridhonya Allah SWT, dan ridho Allah SWT tidak bisa dibeli dengan apapun.
    Mari kita renungkan bersama, bandingkan harta kita yang kita keluarkan untuk agamanya Allah SWT dengan untuk kesenangan duniawi kita? Nginep di resort mahal mampu, nyumbang untuk pembangunan masjid cuman 20 ribu.. Ganti gadget mahal seharga minimal 5 juta tiap tahun bisa, zakat tiap tahun cuma 2,5% ogah-ogahan.. Nonton konser 800 ribu seneng (yang ini nyindir diri sendiri :P), ada info ustadz dibayar mahal langsung ngecap Ustadz itu matre, komersial dan tudingan jahat lainya.. astaghfirullah
    Terus pasti ada yang nyolot, Lhoo tapi kan yang namanya nyumbang itu yang penting ikhlasnya, bukan nilainya??? Tuuh kan belum apa-apa udah mengkondisikan ikhlas yang berkaitan dengan agam itu selalu yang bernilai sedikit, sekarang lebih baik mana, nyumbang dikit tapi ikhlas atau nyumbang banyak tapi ikhlas???
  4. Juga kita harus perbanyak istighfar kita, mohon ampun kepada Allah SWT sudah banyak menilai semuanya hanya dari 1 sudut pandang saja tanpa melakukan crosscheck apapun termasuk juga dalam kasus Ustadz Solmed dan juga kasus yang nyebutin Ustadz-Ustadz yang lain sebagai Ustadz komersil.
  5. Mari terus perdalam ilmu agama kita, agar ridho Allah SWT bisa kita dapatkan.

Sejujurnya saya makin iri dengan teman-teman dari agama lain, dari pandangan pribadi saya, entah kenapa mereka terlihat sangat terorganisir dalam setiap peribatannya. Terorganisir secara organisasi, teroganisir secara keuangan, pokoknya terkesan sangat rapi di mata saya. Semoga kita juga bisa memperbaiki apa yang masih belum baik dalam peribadatan kita, amien. Seperti kata KH. Abdullah Gymnastiar “3M, Mulai dari diri sendiri, Mulai dari yang kecil dan Mulai dari sekarang”

Mohon maaf dengan tulisan saya, mungkin saya terkesan menggurui sekali, toh saya sendiri bukan orang mulia yang bisa melakukan setiap hal sesuai dengan tuntutan Islam. Mohon maaf atas segala kesalahan.

Wallahua’lam bisshowaab

3 thoughts on “Mencoba Belajar Dari Kasus Ustadz Solmed

      1. ratnosir

        kenapa kita sesama muslim yang ribut,.. orang diluar kalangan bersorak ria,.. harusnya masalah yang besar dikecilkan, yang kecil ditiadakan/diredam…. ini kok malah koar2,.. inilah salah satu ciri devide et impera terhadap islam secara psikologis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s