Apa Aja Sih Kewajiban Istri Menurut Islam?

1

Waktu itu di sebuah kajian rutin di kediaman Habib Muhsin bin Hamid di kawasan Bumiayu Malang, saya mendengar satu pernyataan yang membuat saya kaget n mungkin bener-bener kaget, gimana nggak, Beliau mengatakan bahwa kewajiban seorang istri hanyalah melayani suaminya untuk urusan syahwat atau berhubungan badan suami istri saja. :O :O :O

Terus gimana donk dengan tugasnya untuk ngurus anak, nyuci, masak deelel.. karena seperti banyak dibilang orang kalau istri itu urusannya (kewajibannya) ya ada di area Dapur, Sumur & Kasur. Nah lho.. Pernyataan itu kemudian tidak diteruskan oleh Beliau, karena memang saat itu yang dibahas bukan mengenai hal tersebut.

Nah karena saya bener-bener masih kaget oleh pernyataan itu, saya kemudian coba menanyakan mengenai hal itu kembali kepada Habib Muhsin dan Beliaupun hanya menjawab dengan memberikan sebuah link http://www.ummi-online.com/berita-746-cuci-baju-dan-masak-kewajiban-istri.html dan Beliau bilang “Yusuf coba buka alamat web diatas. Keterangan nya cukup bagus untuk menambah keterangan saya kemaren”.

Ok, jadi gini isinya

Assalamu’alaikum

Ustadzah, apakah benar dalam Islam tidak ada kewajiban mencuci baju suami dan memasakannya makanan? Bagaimana dengan pandangan konservatif soal kewajiban istri ini? Terima kasih.

Wassalamu’alaikum

INDRIANI, JAKARTA

Wa’alaikumussalam

Pertanyaan ini sangat menarik, karena tradisi yang berkembang di masyarakat kita di antara kewajiban seorang istri adalah mengurus rumah tangga dengan pekerjaan mencuci, memasak, dan lainnya. Sementara tradisi yang berkembang di Timur Tengah, yang biasa belanja ke pasar adalah para suami, dan pekerjaan rumah tangga menjadi tanggung jawab suami dengan menggaji pekerja rumah tangga.

Lalu benarkah dalam Islam tidak ada kewajiban melakukan itu semua bagi seorang istri?

Para ulama berbeda pandangan dalam hal ini sebab tidak ada dalil secara eksplisit yang menyebutkan kewajiban memasak dan mencuci dibebankan kepada istri atau menjadi tanggung jawab suami.

Apakah istri wajib melakukan pekerjaan rumah? Abdul Majid Mahmud Mathlub dalam kitabnya Al-Wajiz Fi Ahkamil Usroh al-Islamiyah dan Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa sebagian fuqaha berpandangan seorang suami tidak boleh menuntut istrinya secara hukum untuk melakukan pekerjaan rumah. Karena akad nikah yang terlaksana antara mereka berdua hanya bermaksud menghalalkan bergaul antara suami istri untuk menjaga kehormatan diri dan menghasilkan keturunan.

Pekerjaan rumah seperti mencuci dan memasak termasuk dalam ruang lingkup kewajiban yang harus disediakan suami dalam kehidupan rumah tangga. Pandangan ini diwakili oleh mazhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan az-Zhahiriyah. Adapun riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa istri harus melayani suaminya hanya menunjukkan sifat kerelaan dan keluhuran budi.

Seperti kisah Asma’ binti Abu Bakar yang dinikahi oleh az-Zubair yang miskin tidak memiliki harta dan budak, sehingga Asma’ turut mengambil air, memberi makan kuda, membuat roti, bahkan membawa biji-biji kurma di atas kepalanya dari kebun Zubair yang diberi Rasulullah saw.

Imam Nawawi mengomentari kisah ini dalam Syarh an-Nawawi. “Semua ini termasuk kepatutan (apa yang telah dilakukan Asma’ binti Abu Bakar tersebut), bahwa wanita melayani suaminya dengan hal-hal yang telah disebutkan itu (seperti memasak, mencuci pakaian, dan lainnya), semua itu merupakan sumbangan dan kebaikan wanita kepada suaminya, pergaulan yang baik, perbuatan yang makruf, yang tidak wajib sama sekali atasnya, bahkan seandainya ia tidak mau melaksanakannya maka ia tidak berdosa.”

Dalam haditsnya, Rasulullah menjelaskan tentang tanggung jawab kepemimpinan. “Setiap kamu adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Imam itu pemimpin dalam keluarganya, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Laki-laki itu pemimpin, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Khadam itu pemimpin bagi harta majikannya, bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya,” (HR Bukhari).

Abdul Halim Abu Syuqqoh dalam Tahrirul Mar’ah mengomentari kalimat “Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya”. Menurutnya, bukan berarti wanita harus melaksanakan sendiri semua tugas rumah tangganya, mulai dari menyiapkan makanan, mencuci, menyetrika hingga membersihkan rumah. Tapi yang dimaksud adalah, semua itu merupakan tanggung jawab (pengawasannya), namun bisa dilaksanakan orang lain seperti pekerja rumah tangga (pembantu), anak-anak, kerabat atau dibantu suaminya sendiri. Maka semua itu bergantung pada kemampuan nafkah dan finansial suami, juga kesempatan dan kemampuan istri untuk melaksanakannya dengan tidak mengabaikan tugas utama yang lainnya, yaitu merawat anak-anak dan mendidiknya dengan baik.

Sementara fuqaha yang lain berpendapat, melayani suami dan melakukan pekerjaan rumah merupakan kewajiban istri. Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad dan Thabrani, Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang perempuan telah mengerjakan shalat fardhu lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.”

Maka seorang istri, ketika diperintahkan suaminya untuk mencuci dan memasak, ia harus menaatinya. Karena melayani suami dengan memasakkan makanan dan mencuci pakaiannya merupakan bagian dari ketaatan pada suami. Nabi saw dan para sahabat Nabi menyuruh istri-istrinya membuatkan roti, memasak, membersihkan tempat tidur, menghidangkan makanan, dan sebagainya. Tidak seorang pun dari mereka yang menolak pekerjaan tersebut.

Terlepas dari dua pandangan yang berbeda tersebut, pada prinsipnya, hubungan suami istri dalam Islam dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang, saling percaya, saling tolong menolong dalam suka dan duka. Seluruh urusan dalam rumah tangga berlandaskan saling ridha dan musyawarah. Masing-masing pihak ikhlas menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya. Mereka harus saling menasihati, saling membantu untuk menunaikan tanggung jawab kehidupan suami istri serta pemeliharaan anak-anak dan pendidikan mereka dalam setiap situasi dan kondisi. Rumah tangga tidak akan harmonis jika hubungan yang dibangun atas penuntutan hak, bersifat hitam putih, kaku dan saklek.

Semoga Allah memberkahi istri-istri yang menghabiskan hari-harinya untuk mendidik anak dan memelihara rumah tangganya dengan mengharapkan ridha Allah semata. Dan semoga Allah memberkahi suami-suami yang menghabiskan masa hidupnya dalam berusaha memenuhi kebutuhan keluarga, anak-anaknya, dan tulus membantu istrinya dalam mengerjakan tugas-tugas rumahnya. Semoga Allah meridhai rumah tangga yang dibangun atas azas wata’awanu ‘alal birri wat taqwa, saling menolong dalam perbuatan kebaikan dan ketakwaan. Wallahu a’lam.

5

Dari sini sebenarnya sudah cukup jelas untuk saya, namun memang masih ada beberapa teman yang menanyakan mengenai dalil dan sumber hukum yang lain, dan ditengah kebingungan itu (halah, lebay inimah😛 ) tiba-tiba di salah satu group hikmah, muncullah artikel yang menguatkan keterangan diatas, berikut artikelny

“ADAT BUKANLAH SYARIAH DAN SYARIAH BUKALAH ADAT.”

Para suami dilarang terkejut!

Mari kita renungkan hal berikut wahai para suami, lalu kita introspeksi dengan sikap kita selama ini kepada istri kita:

– Harta istri: bukan harta suami

– Harta suami: sebagiannya adalah hak istri

– istri berhak menetapkan nilai mahar

– nafkah adalah kewajiban suami bukan kewajiban istri

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (QS. An-Nisa’ : 34)

Apa kata para ulama mazhab dalam masalah ini ?

1. Madzhab Hanafi

“Seandainya suami pulang membawa bahan pangan yang masih harus dimasak dan diolah, namun istrinya enggan memasak atau mengolahnya, maka istri itu tidak boleh dipaksa. Suaminya diperintahkan untuk pulang membawa makanan yang siap santap.” (Imam al-Kasani dalam kitab al-Badai‘).

2. Mazhab Maliki

– Wajib atas suami melayani istrinya walau istrinya punya kemampuan untuk berkhidmat.

– Bila suami tidak pandai memberikan pelayanan, maka wajib baginya untuk menyediakan pembantu buat istrinya (asy-Syarhul Kabir oleh ad-Dardiri)

3. Mazhab Syafi’i

– Tidak wajib bagi istri membuat roti, memasak, mencuci, dan bentuk khidmat lainnya untuk suaminya.

– Karena yang ditetapkan (dalam pernikahan) adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta’), sedangkan pelayanan lainnya tidak termasuk kewajiban (al-Muhadzdzab oleh asy-Syairozi)

4. Mazhab Hanbali

– Seorang istri tidak diwajibkan untuk berkhidmat kepada suaminya, baik berupa mengadoni bahan makanan, membuat roti, memasak, dan yang sejenisnya, termasuk menyapu rumah, menimba air di sumur.

– Karena aqadnya hanya kewajiban pelayanan seksual. Dan pelayanan dalam bentuk lain tidak wajib dilakukan oleh istri, seperti memberi minum kuda atau memanen tanamannya (Imam Ahmad bin Hanbal).

5. Mazhab Dzahiri

– Tidak ada kewajiban bagi istri untuk mengadoni, membuat roti, memasak, dan khidmat lain yang sejenisnya, walaupun suaminya anak khalifah.

– Suaminya itu tetap wajib menyediakan orang yang bisa menyiapkan bagi istrinya makanan dan minuman yang siap santap, baik untuk makan pagi maupun makan malam.

– Serta wajib menyediakan pelayan (pembantu) yang bekerja menyapu dan menyiapkan tempat tidur (al Muhalla oleh Ibnul Hazm)

Disisi lain seorang Istri wajib menaati suami, jika suami memerintahkan istri untuk berhenti kerja, maka istri shalihah pasti langsung berhenti kerja.

Isteri wajib taat kepada suami asalkan perintah suami bukan maksiat

Nah dari sini sudah cukup jelas kan alas an kenapa Habib Muhsin mengatakan hal tersebut, terkadang masih banyak yang berpendapat bahwa pamali suami membantu pekerjaan istri di dapur, dan juga memang memasak, mencuci dan membersihkan rumah itu kewajiban seorang istri.

Apabila memang seorang istri mau membantu suaminya untuk bisa menyiapkan makanan bagi keluarganya, mencuci baju suami dan anak-anaknya, juga membersihkan rumah tempat bernaung keluarganya, itu hanyalah merupakan bentuk kasih sayang yang teramat sangat dari seorang istri dan ibu bagi suami dan keluarganya. Sungguh sudah terbayang bagaimana luar biasanya ladang amal dan pahala yang diberikan oleh Allah SWT untuk seorang istri seperti itu.

7

 

Dan juga sebaliknya, menurut Habib Muhsin apabila seorang istri meminta upah atas semua pekerjaan rumah yang telah dilaksanakannya dan atau seorang istri meminta untuk disediakan pembantu untuknya kepada suaminya, maka sang suami WAJIB memenuhi permintaan sang istri

Jadi sesuatu yang memang sudah menjadi adat kita belum tentu sesuai syariah, dan juga syariah terkadang dianggap salah menurut adat. Sesuai judul artikel terakhir, Adat Bukanlah Syariah dan Syariah Bukanlah Adat.

Wallahua’laam Bisshowaab

 

43 thoughts on “Apa Aja Sih Kewajiban Istri Menurut Islam?

    1. Muhamad Yoesuf Post author

      mas ace maxs yang baik, mohon maaf saya bukan ustadz mas🙂

      untuk masalah si istri dosa apa ndak, itu sih wallahua’laam mas, hanya Allah SWT yang tahu, tapi seperti yang saya tuliskan diatas, secara fiqih (yang saya yakini), tugas seorang istri itu hanya (mohon maaf) melayani suaminya di tempat tidur, tidak lebih, tidak pula dijelaskan seorang istri akan menanggung dosa apabila pekerjaan di rumah (masak, cuci, bebersih misalnya, yang selama ini kita anggap merupakan kewajiban seorang istri), yang selain melayani suami di tempat tidur tidak dikerjakannya.

      menurut saya analoginya adalah seperti kita kerja di suatu restoran, karena kita adalah seorang koki, maka tugasnya adalah memasak, kemudian, apakah jika si koki ikut membersihkan restoran itu, ikut belanja ke pasar berarti dia melakukan kesalahan dan pantas dihukum? belum tentu. Selama tugas utama si koki ini terselesaikan dengan baik, maka bebersihnya, berbelanjanya si koki itu merupakan kebaikan hati seorang koki untuk membantu pekerjaan karyawan lain, dan (menurut saya) pantas mendapatkan apresiasi lebih🙂

      Wallahua’laam bisshowaab

      Reply
  1. Suami

    Wah..wah.. suami yang nyuci, ngurusi rumah tangga, dan istri kayak “boss”…berarti status suami sebagai PELAYAN..bukan PEMIMPIN.. SEBAIKNYA. CERAIKAN SAJA WANITA SEPERTI ITU…MASIH BANYAK WANITA YANG LEBIH BAIK..DAN MAU BERKHIDMAT PADA SUAMI NYA…

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      Mas suami yang baik,

      Pertanyaan pertama saya adalah, tujuan mas buat cari istri apa? Mau dijadiin asisten rumah tangga atau mau cari pendamping hidup?

      Kalo memang kita di posisi suami yang bisa dianggep pemimpin, yang kita donk yang mengarahkan istri kita biar tidak jadi “boss” kalo memang kejadian istri kita justru jadi “boss” berarti kita yang gagal ngedidik istri kita

      Banyak hikmah kok mas dengan aturan seperti ini di Islam, tinggal kita nya mau melihat dari sisi mana

      Wallahualaam

      Reply
    2. triplezi

      Waduh mas kl butuh pembantu gaji orang saja,jgn cari istri.istri itu pendamping bukan pembantu mas.berkhidmat itu pada hal2 yg sesuai syariah.kl kami prp mengerjakan pekerjaan rumah krn kami mencintai anak dan suami kami,bukan krn kami pembantu mas.emang sanggup mas gaji kami yg kerja 24jam sehari?kl sy dapat suami ky mas ini ya mending sy dicerai saja,nyesel lahir batin kali

      Reply
  2. Safrina Dewi

    Betul. Bayangkan saja kalau ada istri yang punya bayi dan harus melakukan semua tugas rumah tangga. Belum lagi yang punya pekerjaan di luar rumah. Tidak heran kalau tidak banyak ibu yang sanggup menyempurnakan masa penyusuan (2thn) untuk anak-anaknya. Bahkan perawatan dan pendidikan (di rumah) anak-anak terpaksa diserahkan pada asisten dan televisi. Sungguh, Islam itu menempatkan segala sesuatu sesuai kodratnya.

    Reply
  3. ferdi

    Dari hasil kalimat terakhir td kok saya bertentangan ya jika seiorang istri meminta hal tersebut suami WAJIB , suami yg menafkahi istri jika suami memerintahkan istrinya berarti sangat lebih wajib asalkan perintah itu bukkan suatuhal yg di haramkan atau berdosa

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      Mas Ferdi yang baik,

      Secara ilmu fiqih yang saya pelajari memang seperti itu mas, suami wajib memberikan “bayaran” atas apa yang sudah dikerjakan oleh istri kita.

      Soal dia mau ikutin perintah kita atau tidak, itulah rohmat atau rasa sayangnya seorang istri kepada suami dan kekuarganya, dan inshaAllah itu jadi balasan pahala yang luar biasa besar buat istri kita.

      Wallahua’lam

      Reply
  4. ferdi

    seperti halnya kita sebaagai manusia di ciptaakan oleh Allah SWT untuk beriman kepadanya, berjalan di jalannya dari hal tersebut itu maksud yg di sederhanakan jika di rincikan qt sebaggai manusia itu tidak terhitung hal apa sajja kebaikan apa saja amal perbuatan apa sajja yg harus qt lakukan bukan hanya kepada Allah SWT, jikaa menurut saya Wajib hukum nya untuk seorang istri melayani suaminya dengan baik . Manusia wajim mellaksanakkan perintah Allah SWT bukan hhanya 1 hal sajja tp baanyak hal

    Reply
  5. ferdi

    Oh iy mas maaf saya mau tanya ini sayya sudah 2 tahun berumah tangga, tp saya dengan istri saya tidak tinggal serumah jujur saya tmasih tinggal di rumah orang tua saya numpang tp istri saya tidak mau ikut tinggal dengan saya, jadi saya merasa sekarang percuma status saya menikah tp tidak tinggal bersama istri saya, apakah istri seperti itu tetap wajib qt nafkkahi

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      Jujur saya belum tahu hukum untuk itu mas, menurut saya pribadi, selama mas ferdi masih terikat status pernikahan dan belum bercerai, mas ferdi masih wajib menafkahi istri

      Reply
    2. Muhamad Yoesuf Post author

      Jadi jangan menjadikan sesuatu yang wajib jadi tidak dilaksanakan hanya karena kondisi yang ada tidak sesuai dengan harapan kita, sama kayak hal nya bukan berarti kita jadi boleh meninggalkan sholat meskipun semua doa kita belum juga dikabulkan.. IMHO

      Reply
  6. ferdi

    soalnya zaman sekarang kiamat sudah dekat saangat banyak sekaali istri2 yg sudah tidaak di jallannya di jalurnya di kodratnya mas terkadang di situ saya merasa sedih entah appa yg meracuni pikiran mereka, membantah perintah suami sellalu tidak pernnah bersyukur selalu merasa kurang nafkah dari suami, mereka mengaku mengerti agama sedangkan kalimat mengeluh atau tidak cukup itu sudah bukan suatu hal yg baik

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      Minta bantuan sama Allah mas, Allah kan Maha Pembolakbalik Hati, buat ngerubah istri mas mah bukan perkara besar buat Allah. Pararel sama minta sama Allah, mas juga ga ada salahnya instropeksi diri, ada salah apa nih sama Allah, orang tua, istri or keluarga kok bisa ada kejadian kayak gini.. Mohon maaf mas ferdi kalau saya jadi menggurui..

      Reply
  7. ferdi

    Jadi apakah di benarkan jikka seorang istri yg tidak melakukan kewajibannya suami berhak untuk tidak menafkahi karena seorangg istri tidak melaksanakkan kewajibannya

    Reply
  8. ferdi

    jika keadaannya seperti itu saya masih waajib menafkahi istri, jadi yang wajib di lakukan istri apa ya mass hehehehehhe mungkin bisa kasih pencerahan

    Reply
  9. ferdi

    Kalo solat itu bukan tempat qt untuk meminta tp tempat qt untuk berdoa setau saya ,jadi memintaa itu menunjukan rasa ketidak bersyukuran qt terhadap appa yang telah di berikan oleh Allah SWT

    Reply
  10. ferdi

    yah ra popo mas namanya juga saaya lg belajar mencari hal2 yg wajib di lakukan seorang suami dan haram untuk di lakukan seorang suami yg perintahnya tidak di taati oleh seorang istri

    Reply
  11. ferdi

    Jujur mas sebenarnya saya takut loh para istri membaca artikel ini jika banyak istri yg kurang sampe pemikirannya untuk memahami artikel ini bakalan banyak istri2 yg menuntut dan menentang suami

    Reply
  12. 140872

    Kamu pinter Ferdi…karena dalil2 yg dijadikan dasar sebagian besar bukan dari Quran dan Hadits…

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      Hayuk belajar lagi bareng-bareng mas..

      Di Alquran n hadits secara literally ga ada juga lho larangan ngerokok, ga ada juga lho anjuran nolongin mbah mbah nyebrang jalan, ahh sudah lah mungkin guru kita beda, ajarannya pun beda, tapi saya tetep yakin kok mas semoga kita semua diberi hidayah oleh Allah SWT, amiin..

      Lets do the best, then let Allah SWT do the rest,

      Reply
  13. dita

    sya anak dr ibu yg tdk prnh mngurus rmh, dy sibuk bkerja & tdk pduli pd anak serta suami. ibu sya mrasa nafkah dr bapa kurng shingga wajar jka ia tdk mngurus suami. shingga bapa sya yg mngurus rmh srta memasak krna merasa tdk bsa mencukupi istri..namun skrg bapa sya sudh bsa mencukupi istri, tp krnaibu sudh trbiasa dilayani dy tetap tdk mngurus rmh tangga dan slalu merendahkan suami. apa ibu tdk brdosa?

    Reply
  14. dwiaprilusiantoc

    Assalamualaikum wr wb.

    Menarik membaca artikel diatas. Ada pertanyaan yg mengganjal di benak saya. Jika semua pekerjaan rumah tangga (memasak, mencuci, mengawasi anak2, menyetrika, dll) merupakan kewajiban suami sedangkan mencari nafkah juga kewajiban suami. Maka pertanyaan saya:

    1. Maka kira2 yg lebih utama yg mana antara mengurus rumah dan mencari nafkah?
    karena kalau dilakukan oleh suami semua maka apa masih mungkin seorang suami punya waktu untuk itu semua? Karena menyiapkan sarapan, makan siang, makan malam, mengawasi anak, mendidik anak, memandikan anak, merawat rumah, dsb itu membutuhkan waktu yg banyak, padahal suami juga dituntut mencari nafkah yg juga membutuhkan waktu yg banyak jg. Apalagi jika suami bekerja pada sebuah kantor yg ada jam kerjanya juga (ada jam kerja tetap dan tidak tetap tiap harinya).

    2. Jika suami tidak bisa menyediakan pembantu bgaimana?
    Hal ini karena suami walaupun sudah bekerja maksimal dan hanya pekerjaan itu saja yg bisa dilakukan atau hanya tempat tersebut yang mau menerima suami tersebut bekerja tapi gaji yg didapatkan saja tidak cukup utk membiayai kebutuhan dan tidak memungkinkan untuk menggaji pembantu padahal suami tersebut bekerja dari pagi sd malam.

    3. Bolehkan Calon Suami memutuskan untuk tidak menikah atau Suami memutuskan menceraikan istri karena tidak sanggup memenuhi kewajiban mengurusi rumah tangga?
    Hal ini karena tidak sanggup membagi waktu utk mengurus rumah tangga atau menyediakan pembantu ataupun menggaji istri, padahal menikah adalah kewajiban bagi yg mampu. Kalau begitu laki2 walaupun sudah cukup umur dan punya penghasilan sendiri tapi tidak cukup punya waktu utk mengurus rumah tangga karena pekerjaannya menuntut waktu yg banyak dan penghasilannyapun hanya cukup untuk kebutuhan pokok berarti masih masuk dalam kategori tidak mampu? begitu pula dgn suami yg sudah maksimal mencari pekerjaan dari pagi sd malam tapi hanya punya penghasilan yg untuk kebutuhan pokok saja bisa masuk kategori tidak mampu atau masuk kategori tidak bisa menafkahi istri?

    4. Bagaimana kehidupan istri Nabi dan para Sahabat apakah mereka para istri mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau tidak?
    Bagaimana pula kegiatan istri Sahabat yg miskin, apakah mereka para istri juga mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau tidak?

    Jazakumullah ustadz

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      Mas Dwi yang baik

      Saya bukan Ustadz mas, saya hanya menuliskan kembali apa yang disampaikan oleh guru saya yang saya yakini kebenarannya

      1. Keduanya merupakan kewajiban, dan kedua nya wajib dilakukan, namun jika pertanyaanya mana yang lebih utama (menurut saya pribadi) adalah mencari nafkah. Namun yang harus digaris bawahi adalah, bukan berarti sang suami harus melakukan semua pekerjaan rumah tangga tersebut, maksud penjelasan hukum tersebut ialah janganlah semua pekerjaan itu dibebankan kepada istri kita, apabila sang suami bisa membantu maka bantulah, jangan pernah merasa itu adalah kewajiban seroang istri semata.

      2. itulah luar biasanya sang istri, meskipun semua pekerjaan rumah tangga itu bukan kewajibannya, dengan rasa sayang yang sangat besar kepada keluarga sang istri mau melakukan itu semua. Saya pribadi yakin rasa sayang seorang istri bisa mengalahkan ketidakmampuan seorang suami menyediakan pembantu.

      3. Saya yakin mas dwi sudah tahu, bahwa cerai adalah hal halal yang paling dibenci Allah SWT, pun pula dengan keputusan untuk tidak mau menikah yang berarti mengingkari sunnah Rasulullah SAW, jangan lah berfikiran sampai kesana, kenapa anggapan kurang baik itu tidak mas ganti dengan doa yang lebih indah, doa agar sang suami diberikan istri yang sholehah, diberikan rezeki yang banyak dan barokah dan doa doa indah lainnya yang bisa menghindarkan sang suami dari keputusan kurang baik itu?

      4. Jangankan para sahabat Nabi, Rasulullah SAW sendiri diriwayatkan sering sekali membantu pekerjaan rumah, Dalam buku Insan kamil karangan Dr. Sayyid Muhammad Alwy al-Maliky, disebutkan bahwa Al-‘Aswad datang bertanya kepada Aisyah apakah yang dikerjakan Nabi SAW bila ada dirumah? Aisyah menjawab: “Ia membantu istrinya, hingga apabila datang waktu shalat, maka ditinggalkannya apa yang dikerjakan. Beliau bukan orang yang congkak. Bahkan beliau mengerjakan sendiri apa yang diperlukan. Imam Ahmad dalam Musnad dari Aisyah berkata, “bahkan Nabi SAW menjahit baju dan memperbaiki sandalnya sendiri. Bekerja seperti halnya orang lain mengerjakannya”, bagaimana para sahabat? Rasulullah SAW adalah orang yang paling kaya namun juga miskin saat itu, dan Beliau tetap membantu pekerjaan rumah tangga istri Beliau

      Wallahua’laam Bisshowaab

      Reply
      1. dwiaprilusiantoc

        Assalamualaikum wr wb

        Poin yang saya tangkap dari jawaban mas, berarti Suami juga mau membantu, bukan kewajiban Suami untuk melakukan itu semua. Berarti ada poin yang harus ditambahkan dalam tulisan di atas yakni Suami juga membantu mengurus rumah semampunya karena Suami juga punya kewajiban menafkahi Istri dan Keluarganya yang juga wajib bagi Suami, karena jika Suami tidak memberi nafkah ke Istri dan Anak-anaknya bukankah termasuk dosa besar. Karena jika di poinkan bahwa semua itu kewajiban Suami, maka hanya orang-orang yang mampu secara finansial saja yang boleh menikah. Padahal ada juga riwayat Sahabat yang miskin sedangkan Istrinya kaya, akan tetapi sang Istripun tetap mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

        Mungkin ini ada link yang bisa ditambahkan dalam tulisan di atas. http://muslimah.or.id/7076-benarkah-istri-tidak-wajib-mengerjakan-pekerjaan-rumah-tangga.html

  15. putra

    hmmm… coba dibaca and dikaji lagi hadist2 tentang hak dan kewajiban istri mas, tabu banget yah kayaknya klo pernikahan hanya untuk menghalalkan sex,dan membuat keturunan…. padahal tanggung jawab suami besar banget, bwat wanita berubah surganya dr telapak kaki ibu menjadi telapak tangan suami loh…. kewajiban istri adalah taat kepada perintah (yg baik) dr suami… klo suami suruh istri memasak untuk mereka dan anak2, mencuci baju suami, istri, dan anak2 maka mutlak hukumnya wajib bagi sang istri menjalani perintah tersebut (pengecualian jika istri tidak sanggup atas perintah tersebut)….. kewajiban suami disini bukan “membayar” tp “menafkahkan” and jika suami mau memasak,mencuci itu hanya sifatnya membantu saja karna mungkin istri tidak sanggup melakukan hal tersebut…sepertu halnya istri bekerja untuk membantu meringankan beban finansial suami, tetap sifatnya hanya membantu….. referensi hadist https://coretanamr.wordpress.com/2012/11/13/kumpulan-hadits-tentang-kewajiban-istri/?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C5338627719

    Reply
    1. Muhamad Yoesuf Post author

      mas putra yang baik

      maturnuwun mas sarannya, insyaAllah saya belajar lagi,

      poin tulisan saya (dan yang saya pahami dari masalah ini) adalah lebih ke kita sebagai suami harus tahu, bahwa jangan sampai kita menganggap tugas-tugas (yang biasa) dilakukan istri kita adalah kewajibannya, sehingga kita jadi menganggap itu adalah “masalah istri” saja, bukan “masalah” suami dan ujung2nya kita jadi tidak peduli dengan tugas2 itu..

      wallahua’laam bisshowaab

      Reply
  16. Binar wicaksono

    Assalamualaikum,

    Dari yg saya pahami adalah tugas suami mengayomi istri dengan menafkahi istri dan memimpin keluarganya, karna kelebihan dr seorang laki2 memiliki fisik yg lebih kuat, warisan yg lebih banyak dan kelebihan lain yg di miliki laki2 sehingga berkewajiban menafkahi istri. Saya bisa mengerjakan pekerjaan rumah seperti masak, nyuci, setrika, ngepel, ngurus anak kecil, menjahit dan saya bekerja mencari uang yg saya gunakan untuk mensejahterakan keluarga. Tapi pekerjaan yg membutuhkan tenaga banyak berada diluar rmh dan pekerjaan yg membutuhkan kelembutan hati ada didlm rmh. Lelaki memiliki fisik yg lebih unggul dan wanita unggul karena kelembutan hatinya oleh karena itu wajib bagi pria menjaga wanitanya. Masyaallah saya berkeyakinan bahwa pekerjaan rumah tangga dilakukan oleh istri rasul tanpa diminta karena mereka memahami apa yg harus mereka lakukan. Pada dasarnya surga istri ada di telapak kaki suami dengan begitu apapun yg dikatakan suami harus menurut selama tidak melanggar kaidah yg berlaku sama dengan hal nya seorang anak surganya di kaki ibu dmn harus berbakti dan tidak dijelaskan bagaimana sikap berbakti, tetapi dalam persamaannya dpt ditarik kesimpulan jika ingin masuk surga harus menyenangi dan menuruti apa yg diminta (sekali lagi selama tidak melanggar kaidah yg berlaku). Point yg terpenting adalah saling membuat senang satu dengan yg lainnya. Islam agama bagi orang yg berfikir dan memahami tujuan kebaikan apa yg di ajarkan, meski tidak dijelaskan lewat hadist atau di alquran tata cara berkehidupan dapat dicontoh ketika nabi dan sabahat hidup karena itulah jalan kehidupan yg sebaik baiknya. Semakin jaman berkembang akan banyak pemahaman agama yg subhanallah akan melenceng karena menjadi suatu kebiasaan yg baru. Islam agama yg paling lengkap mengajarkan dan memberi ilmu yg dibutuhkan manusia,tinggal manusianya mau belajar dan berfikir atau tidak. Sepenggal ayat tanpa pemahaman yg mendalam akan menjadi bumerang kerusakan bagi generasi selanjutnya. Semoag tuhan selalu mengampuni dosa dan memberikan petunjuk. Amieenn… Wassalam

    Reply
  17. fahmi jabat erat

    Bismillah..
    jika artikel ini dibaca para istri saran saya motifasinya harus bisa merenungibetapa besarnya, betapa banyaknya, dan betapa beratnya kewajiban serta tanggung jawab suami kepada istri dan keluarga, dari itu jika memang istri benar-benar mencintai suaminya maka bantulah sekuat mungkin untuk meringankan beratnya tanggung jawab suami, tentunya dengan hati yang ihlas.
    karena bagi saya memang sangat berat kewajiban suami terhadap istri dan keluarga melihat uraian artikel diatas adanya seperti itu. lalu jika sampai tidak memenuhi kewajibannya tentunya dosa dong, kalau berdosa apa pantas surga yang didapatkan?? hehee..
    jadi sekali lagi spiritnya jika istri benar- benar mencintai suaminya maka pasti muncul dengan sendirinya keihlasan untuk membatu meringankan beratnya kewajiban suamiyang seabrek, toh yang dituju kesejahteraan brsama, dan pasti dong semua istri sholehah tahu bahwa pundi-pundi amal ibadah seoarang istri selain mengabdi kepada sang Kholiq juga terletak pada suami.

    Untuk para suami yang soleh juga demikian, jangankan berbicara kewajiban-kewajiban yang harus diberikan kepada istri, kalau bisa sebelum istri meminta atau mengharapkan sesuatu hal (diluar kewajiban mutlak) ga ada salahnya suami sudah menyiapkan atau memberi kejutan apa yang diharapkan istri, bukankah begitu baru yang namanya cinta.
    kita smua pernah merasakan sebuah kewajiban dimana kewajiban itu tidak sesuai dengan keinginan tetapi tetap saja harus dijalankan. contoh, jika peraturan kerja wajib masuk kantor pukul 07:00 ya harus diwaktu itu sudah sampai kantor, kalau harus memilih ya enakan dirumah baca koran sambil menikmati teh hangat, iya ga?? hehe..
    kalau memang smua dalam urusan keluarga dan rumah tangga tanpa terkecuali hakikatnya merupakan tanggung jawab suami saya setuju dengan pernyataan itu, karena bagi saya predikat “laki-laki sejati” justru ketika mampu dan sanggup melakukan hal apapun, tentunya selama tidak keluar dari syar’i.
    spiritnya ya tidak lain tidak bukan seorang suami harus berusah sekut-kuatnya untuk mensejahterakan istri dan keluarga, disitu pastinya akan ada rasa kebanggan tersendiri saat bisa meraihnya, bersamaan dengan itu predikat suami sejati, ayah sejati, dan laki-laki sejati pantas disandangnya.

    maaf comentarnya ngawur mengisi waktu ga bisa tidur.. dan trimakasih untuk ulasan artikelnya, benar-benar menjadi spirit bagi saya untuk berusaha bisa menjadi suami yang baik (mohon doa nya) karena sebentar lagi insyaallah saya akan menjadi suami,.. hehe..

    Reply
  18. ririn f.

    Ass…
    Membaca penjelasan diatas membuat sy mrsa sdikit tenang meskipun persaan sdih dihati tdk bsa hilang.sy jd sdar Allah ternyata menyayangiku dgn mentakdirknku sbgai ibu rmh tgga dgn dua org anak. Stiap hriku di sibuk kan dgn mengurus ank2 dan suami serta smua pekerjaan rmh tangga.sdh bsa dibayangin btapa letihnya raga ni.Meski begitu sy tdk pernah protes/mnta suami mempekerjaln org untuk mmbntuku.tp dlm hatiku slalu mengelu btapa cpeknya raga ni dan jiwaku memendam rsa kesal,sedih trhdap suami yg tdk mengerti akn hal tu. Mungkn sy berdosa krna slalu mengeluh dlm hati.hanya bsa berdoa pd Allah agar suamiku diberikan hidayah untuk mengerti dan memahamiku,amin…

    Reply
    1. aisyah

      Wassalam.. bwt mba ririn yg sabar y bukan mba ririn aj yg nasipny kya gitu smua istri2 indonesia hampir mengalami hal yg sama termasuk sy sndri.. sy aj ngiri sm istri2 org arab yg belanja suaminy..wkt shlt aj d masjid nabawi para suami dgn sabarny nungguin istriny dgn sabar..beda sm suami sy klo shlt k masjid berangkatny bareng plgny sndri2..hehe..jd kan dr situ aj perbedaanny suami org arab sayang bgt sm istriny.. klo disini para istri belanja ke pasar sndri ga d anterin pdhl risih jg klo abang2 tukang sayur ngegodain.. trus klo qta sehari aj ga kerja seperti nyuci,masak,setrika,nyapu,ngepel,sikat kamar mandi,antar-jemput anak skul di bilang males ..trus mertua nasehatin katany itu udh kewajiban istri.. giliran kita rajin dr pgi smp sore kerja giliran mlmny suami mnt jatah d ranjang qta dah ketiduran krn kecapean kerja..trus suami marah blg qta dosa..jd serba salah… sy pny sdr.d kampung pernah jd tkw d arab.. ktany istri2 org arab kerjany cm ngelayanin suami aj d ranjang sm urus ank..klo pekerjaan yg lain pembantu..tp ad sisi burukny jg para istriny pd gemuk2 mw shlt aj susah ga bs duduk kakiny d lipat jd hrs pke bangku pdhl msh muda…parah y..ya krn kebanyakan lemak jd penyakit…

      Reply
  19. bunda ara fira

    Intix saling membantu dalm urusan rmh tangga.istri g boleh seenakx berleha2 krn adax hkum fiqih ini n suami g boleh lepas tangan atas dasar “urusn rmh kewajibn istri”.
    Buat istri,klo sayng ank n suami apa salahx qta pintar masak n cekatan dlm mengurus rmh krn itu smua akn membuat qta menjadi “istri atau ibu yg d rindukan” 😊 byangkan aja rmh selalu bersih dan rapi,masakan jg slllu enak yakin deh klo suami lg d luar yg ada d pikiranx “pengen plng cpat,makan masakn istri smbil nonton….ambl hp n nelpon istri (masak apa ma drmh?)” atau anak qta mw jajan tp inget klo mamax lg msak jajanan kesukaanx,batal dech jajan dluar 😊

    Reply
    1. ahmad

      Assalamualaikum wr. Wb. Intinya apa yg di perintahkan suami kepada istri itu wajib di kerjakan ( yg baik ), klo suami ga nyuruh yah ga wajib.. Jadi wajib atau tidak tergantung perintah suami. Jadi bukan berdasarkan apa2 cukup berdasarkan ISTRI WAJIB PATUH TERADAP SUAMI termasuk perintah.. Gitu aja ko repot.. Heheee

      Reply
    2. ahmad

      Istri wajib patuhi suami ( yang baik) jadi wajib engganya tergantung perintah dari suami.. Klo di suruh ya wajib klo ga ya wajib.. Gitu aja ko repot

      Reply
      1. adnil Zaff

        Allah perintahkan kamu sudah pastinya itu bersesuaian dengan kudrat kamu. Tapi bila bersangkutan bab ini begitu banyak bantahan dan alasan terutamanya dari kaum lelaki. mengadakan begitu banyak alasan kerana sudah terlalu lama lalai dalam kewajipan. malahan gunakan alasan ‘taat’ di luar batas kemampuan isteri sehingga kebanyakan wanita jadi lemah, melakukan ibadah dalam keadaan tidak ikhlas akibat kejahilan lelaki akhir zaman. Jika tidak mampu menanggung kewajipan dalam perkahwinan, makanya jangan berkahwin. wanita zaman sekarang ramai yang kufur itu kerana lelakinya juga kufur. sentap? memang patutlah korang sentap!

  20. wawan purwanto

    Assalamualaikum….
    Bicara foqih ya…
    Ane tdi udh baca di atas mas….nah skrg saya mau nanya nieh kali aje ad jawaban atau jlan keluar nya.
    Skrg begini mas kita bicara realita yg ad…seorg suami sdh berusaha keras tpi tetap penghasilan yg di dpet gk ckup untuk menafkahi(msh serba kekurangan)tpi istri tdk mau tau yg sedang di alami suami istri cuma bisa cuap” dalam artian meminta di nafkahi dengan sempurn…sedangkan suami lgi kesulitan dalam ekonominya…tpi istri gk mau tau…suami sdh bilang ke istrinya mslah nafkah klo suami lgi kacau balau mengenai ekonomi nya tpi istri gk mau tau bahkan menuntut…nah…klo yg sprti ini gimna mas menurut fiqih?kli yg di jelaskan di atas saya sdh bisa ambil klo suami itu sdh mampu untuk mslah ekonomi…kalaupun kita pnya pembantu rmah tangga gk mslah krena memang suami mampu mslah ekonominya…klo yg saya tanyakan ketika suami ekonominya ancur.(bukan suami yg malas atau memang gk mau mencari nafkah ya).tlong ksh pencerahan nya…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s