Sang Burung Buta, Pincang dan Tak Bisa Terbang

image

Alkisah suatu hari Imam Ibrahim bin Adham didatangi oleh seorang muridnya yang meminta pamit untuk bekerja mencari rezeki di luar kota. Dan tentu saja Beliau mengijinkannya sambil mendoakannya. Setelah berpamitan dan kemudian memulai perjalannya, sampai di tengah jalan karena merasa lelah si murid kemudian menemukan sebuah rumah kosong yang dia fikir bisa dijadikan tempat istirahat.

Si murid kemudian masuk ke rumah kosong itu dan beristirahat. Sesaat setelah bersitirahat, si murid mendengar ada suara siulan burung, dan dia lihat ternyata si burung ada tepat disamping tubuhnya. Si murid kemudian memperhatikan burung itu yang memang terlihat berbeda dengan burung lainnya. Dan ternyata burung itu memang buta, pincang dan tak bisa terbang.

Si murid melihat burung itu dan kemudian berfikir, bagaimana burung buta, pincang dan tak bisa terbang itu bisa hidup? Bagaimana caranya bisa mencari makan?

Tak berapa lama, terdengar ada seekor burung yang datang dan kemudian menghampiri si burung buta tadi. Si murid memperhatikan burung yang baru datang itu. Dan ternyata burung yang baru datang itu menggigit seekor ulat dan kemudian menyuapkannya ke si burung buta. Setelah menyuapkan ulat itu ke burung buta, burung itu kemudian pergi. Tapi tak lama kemudian, muncul burung lain yang juga melakukan hal yang sama, menyuapkan seekor ulat ke mulut burung buta. Dan hal itu terjadi beberapa kali terus menerus.

Melihat kejadian itu, si murid kemudian tersadar dan mengucapkan tasbih, betapa luar biasanya Allah SWT memberikan rezeki ke semua mahluknya, dan si burung buta itu mendapatkan rezekinya melalui burung lain yang datang tanpa diminta. Dan kemudian si murid pun ingat ke salah satu ayat di dalam Al Quran Surat Hud Ayat 6

image

Dan dari itu, si murid kemudian berfikir, kenapa dia harus susah-susah mencari rezeki sampai ke luar kota, sedangkan burung yang buta, pincang dan tak bisa terbang saja sudah dijamin rezekinya oleh Allah SWT. Setelah itu si murid pun pulang kembali ke kotanya.

Sesampainya si murid di kotanya ia kemudian memutuskan kembali menemui gurunya, Imam Ibrahim bin Adham. Ketika bertemu kembali dengan si murid, Imam Ibrahim bin Adham sempat kaget dan menanyakan kepada muridnya, mengapa perjalanan mencari rezeki si murid ke luar kota begitu cepatnya. Si murid kemudian menceritakan semua yang ia alami sampai ia memutuskan untuk kembali ke kotanya. Mendengar itu semua, Imam Ibrahim bin Adham hanya tersenyum dan kemudian berkata

“Alangkah rendahnya derajatmu yang ingin disamakan dengan burung yang buta, pincang dan tak bisa terbang. Apakah dirimu ingin memiliki derajat seperti itu di hadapan Allah SWT? Mengapa engkau tak berfikir untuk bisa menjadi burung-burung yang datang memberikan ulatnya kepada burung buta? Burung-burung itu pergi dari sarangnya untuk mencari rezekinya masing-masing, dan kemudian kembali kepada saudaranya yang buta itu untuk memberikan sebagian rezekinya?! Padahal engkau bisa menjadi burung pemberi ulat itu. Engkau bisa keluar kota dan menjemput rezeki Allah SWT dan kemudian kembali untuk saudaramu, kawanmu, kaummu untuk kau berikan sebagian rezekimu untuk mereka!”

Mendengar itu semua si murid merasa seperti dibangunkan dari tidurnya, ia merasa tidak ingin disamakan dengan si burung buta, ia kemudian membulatkan tekatnya untuk bisa menjadi si burung pemberi ulat itu. Dan ia berpamitan lagi kepada Sang Guru untuk melanjutkan perjalanan ke luar kotanya.

Wallahua’laambisshowaab

*dikisahkan oleh Habib Muhsin bin Hamid di Majlis Taklim Malam Minggu, Bumiayu Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s